Industri asuransi umum Indonesia masih menyimpan ruang ekspansi besar meski pertumbuhan premi belum menunjukkan akselerasi signifikan. Rendahnya tingkat penetrasi asuransi menjadi sinyal bahwa potensi pasar masih luas, namun perubahan perilaku konsumen memaksa pelaku industri beradaptasi lebih cepat.
Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat total premi asuransi umum sepanjang 2025 mencapai Rp120 triliun atau tumbuh 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini relatif stabil, tetapi penetrasi industri yang baru menyentuh 0,5% terhadap PDB menegaskan bahwa adopsi asuransi di Indonesia masih jauh dari optimal.
Di sisi lain, konsumen kini semakin berhitung sebelum membeli polis. Perubahan ini tercermin dari temuan ZenInsure yang menunjukkan mayoritas calon nasabah tidak lagi terpaku pada satu produk, melainkan aktif membandingkan berbagai opsi perlindungan.
Berdasarkan data internal perusahaan, rata-rata pengguna membandingkan hingga tiga polis sebelum membeli. Bahkan, sekitar 80% pengguna mempertimbangkan lebih dari satu penawaran untuk memastikan manfaat perlindungan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Country Head ZenInsure Indonesia, I Ketut Adi Putra Kusnadi, mengatakan tren tersebut mencerminkan meningkatnya literasi sekaligus ekspektasi masyarakat terhadap layanan asuransi.
“Sejak awal, kami melihat bahwa yang dibutuhkan pengguna bukan hanya banyaknya pilihan, tapi juga kemudahan dalam memahami informasi dan kepastian saat klaim. Karena itu, ZenInsure dibangun sebagai marketplace yang tidak hanya membantu membandingkan produk, tapi juga mendampingi pengguna, termasuk melalui layanan Claim Support khusus,” ujarnya.
Menurut Adi, transparansi kini menjadi mata uang utama dalam bisnis asuransi. Faktor harga premi memang masih menjadi pertimbangan utama, tetapi konsumen juga semakin memperhatikan cakupan manfaat, jaringan rumah sakit atau bengkel rekanan, metode pembayaran, hingga kecepatan penerbitan polis.
Perubahan ekspektasi itu ikut menopang pertumbuhan ZenInsure. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan pertumbuhan bisnis lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sektor kesehatan, permintaan perlindungan tetap tinggi, terutama dari perusahaan yang mulai menjadikan asuransi kesehatan sebagai bagian penting dari strategi mempertahankan talenta.
Namun, tekanan inflasi medis menjadi tantangan baru. Sepanjang 2025, inflasi medis tercatat mencapai 13,6%, memaksa perusahaan asuransi melakukan penyesuaian premi untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Presiden Direktur Asuransi Reliance Indonesia, Pepe Arinata, mengatakan konsumen kini lebih fokus pada efektivitas manfaat dibanding sekadar harga murah.
“Konsumen semakin selektif dan lebih memperhatikan value for money dari perlindungan yang mereka pilih. Oleh karena itu, kami mengembangkan solusi yang tidak hanya terfokus pada perlindungan saat sakit, tetapi juga aspek preventif seperti wellness yang semakin diminati,” kata Pepe.
Sementara itu, di lini asuransi kendaraan, tren efisiensi juga mulai terlihat. Produk comprehensive masih mendominasi, tetapi polis Total Loss Only (TLO) mulai naik daun karena dinilai lebih ekonomis.
ZenInsure mencatat penjualan asuransi TLO tumbuh lima kali lipat pada kuartal pertama 2026 secara tahunan. Pertumbuhan serupa juga terjadi pada asuransi kendaraan listrik, yang meningkat lima kali lipat di tengah booming adopsi electric vehicle (EV).
Senior Executive Vice President Zurich Asuransi Indonesia, Sukma Darman, menilai perubahan pola konsumsi ini menuntut industri lebih responsif.
“Asuransi kendaraan tetap berkembang dengan pertumbuhan double digit di kuartal satu. Di sisi lain, kebutuhan konsumen juga semakin beragam dan terus berubah. Karena itu, penting bagi industri untuk terus berinovasi dan menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan nasabah,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, persaingan industri asuransi diperkirakan akan semakin bergeser dari sekadar perang harga menuju adu kualitas layanan dan pengalaman klaim. Bagi pelaku industri, membangun kepercayaan menjadi pekerjaan rumah terbesar untuk mengerek penetrasi pasar yang masih tertahan rendah.




