Rabu, Juni 17, 2026

Tak Sekadar Dunia Maya, Pelecehan Digital Bisa Berujung Trauma hingga Putus Sekolah

Must Read

Dampak penyalahgunaan teknologi ternyata tidak hanya berhenti di dunia maya. Laporan terbaru Kaspersky mengungkap bahwa bahaya digital telah memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, hingga kehidupan profesional para korban. Di kawasan Asia Pasifik, empat dari lima responden mengaku mengalami konsekuensi psikologis dan sosial akibat pelanggaran yang difasilitasi teknologi, mulai dari trauma hingga berkurangnya interaksi dengan orang lain.

Studi yang dilakukan pusat riset pasar internal Kaspersky terhadap 7.600 responden di 19 negara menunjukkan bahwa 79 persen responden secara global menyadari dampak psikologis seperti depresi, trauma, dan stres berkepanjangan. Sementara itu, 73 persen menyebut adanya dampak sosial berupa rusaknya reputasi dan isolasi. Di Asia Pasifik, sebanyak 80 persen responden juga mengakui adanya dampak psikologis dan sosial akibat penyalahgunaan teknologi.

Namun, tingkat kesadaran terhadap dampak lain masih tergolong rendah. Hanya 59 persen responden Asia Pasifik yang mengaitkan pelanggaran tersebut dengan kerugian ekonomi, sedangkan 53 persen memahami adanya risiko eskalasi fisik. Padahal, pelanggaran yang bermula di dunia digital dapat berujung pada ancaman keselamatan pribadi maupun masalah kesehatan akibat tekanan dan rasa takut yang berkepanjangan.

Dampak nyata dari pelanggaran berbasis teknologi juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari korban. Sebanyak 55 persen korban di Asia Pasifik mengaku menjadi lebih berhati-hati saat beraktivitas secara daring. Kemudian, 25 persen mengurangi kehadiran mereka di ruang digital, 18 persen membatasi komunikasi dengan keluarga atau teman, dan sekitar 12 persen mengakhiri hubungan. Dalam kasus yang lebih serius, empat persen korban mengaku kehilangan atau meninggalkan pekerjaan, sementara tiga persen lainnya terpaksa putus sekolah.

Meski dampaknya begitu besar, banyak korban yang tidak mencari bantuan. Kaspersky menemukan bahwa 13 persen korban di Asia Pasifik memilih tidak mengambil tindakan apa pun. Sikap serupa juga ditemukan pada para saksi. Dari mereka yang mengetahui adanya pelecehan terhadap orang yang dikenal, sembilan persen mengaku tidak melakukan apa pun. Secara global, 32 persen responden mengatakan mereka tidak tahu bagaimana cara membantu, sedangkan 23 persen ragu apakah keterlibatan mereka tepat dilakukan.

Peneliti Keamanan Utama sekaligus Pejabat Kepala Pusat Penelitian Amerika dan Eropa pada Tim Penelitian dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky, Tatyana Shishkova, mengatakan bahwa masih terdapat kesenjangan pemahaman terkait dampak penyalahgunaan teknologi.

“Data menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan. Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehan digital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkau karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata. Yang sama mengkhawatirkannya adalah keheningan yang mengelilinginya. Ketika korban tidak bertindak, seringkali bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu ke mana harus berpaling. Menutup kesenjangan itu melalui kesadaran, alat yang mudah diakses, dan panduan yang lebih jelas, adalah persis apa yang kami serukan dan upayakan,” ujar Tatyana Shishkova.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Leonie Maria Tanczer, Associate Professor di UCL Computer Science dan Kepala Laboratorium Penelitian Departemen Gender dan Teknologi. Menurutnya, pengakuan terhadap masalah belum tentu diikuti tindakan nyata.

“Temuan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang kami lihat di seluruh penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi: pengakuan tidak selalu diterjemahkan menjadi tindakan. Secara keseluruhan, ini menunjukkan kesenjangan akuntabilitas yang kritis. Meskipun pemerintah, platform, dan masyarakat luas semuanya memiliki peran penting, perubahan yang bermakna juga bergantung pada individu yang mengenali perilaku berbahaya, menanggapinya dengan serius, dan bertindak sebelum penyalahgunaan menjadi dinormalisasi atau meningkat,” kata Dr. Leonie Maria Tanczer.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, menilai ancaman berbasis teknologi telah menjadi persoalan mendesak yang memerlukan kesadaran kolektif.

“Di era digital saat ini, ruang siber telah menjadi rumah kedua – tempat kita terhubung dan berkreasi. Namun, bagi terlalu banyak orang, ruang-ruang ini juga telah berubah menjadi medan pertempuran permusuhan. Meningkatnya ancaman yang didukung teknologi adalah realitas mendesak yang harus disadari dan dihadapi. Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat pertahanan siber kita, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif, kita dapat bekerja untuk memastikan lingkungan digital yang lebih aman bagi kita semua,” ujar Adrian Hia.

Sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman tersebut, Kaspersky turut menjadi salah satu pendiri Coalition Against Stalkerware, kelompok kerja internasional yang mempertemukan perusahaan teknologi, lembaga penelitian, organisasi nonpemerintah, dan aparat penegak hukum untuk memerangi penguntitan siber serta membantu korban pelecehan digital.

Penelitian ini melibatkan responden dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, India, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya, guna memahami pengalaman masyarakat yang terpapar penyalahgunaan teknologi melalui berbagai platform digital.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ekspansi KEK Gresik Dipacu, Pemerintah Incar Gelombang Investasi Baru

Pemerintah mempercepat proses perluasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik di tengah masih tingginya minat investasi yang masuk ke kawasan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img