Senin, Juni 29, 2026

AI Jadi Penentu Wisata Halal, Indonesia Melesat ke Posisi Dua Destinasi Muslim Terbaik Dunia

Must Read

Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin mengubah wajah industri pariwisata halal global. Laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang dirilis Mastercard bersama CrescentRating menunjukkan sebanyak 80% wisatawan Muslim kini mengandalkan teknologi AI untuk mencari informasi, membandingkan pilihan, hingga menyusun rencana perjalanan. Perubahan tersebut turut mengangkat posisi Indonesia yang kini berada di peringkat kedua destinasi ramah Muslim dunia.

Laporan GMTI 2026 menilai persaingan destinasi wisata tidak lagi hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas halal, tetapi juga pada kemampuan destinasi menghadirkan informasi yang mudah ditemukan oleh sistem AI. Dengan semakin banyak wisatawan menggunakan asisten digital dalam merencanakan perjalanan, visibilitas digital menjadi faktor penting dalam menarik kunjungan.

Indonesia dinilai berhasil menangkap peluang tersebut melalui penguatan ekosistem wisata halal berbasis teknologi. Berbagai inisiatif pemerintah, pelaku industri, dan komunitas digital terus memperluas akses terhadap layanan wisata ramah Muslim yang lebih personal dan mudah dijangkau.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian dalam laporan itu adalah peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA) oleh Kementerian Pariwisata. Asisten digital berbasis AI tersebut membantu wisatawan menyusun itinerary sekaligus memberikan rekomendasi destinasi melalui platform Indonesia.Travel, sehingga informasi mengenai layanan halal dapat diakses sejak tahap awal perencanaan perjalanan.

Senior Vice President Customer Solutions Center Asia Tenggara Mastercard, Aisha Islam, mengatakan perubahan perilaku wisatawan membuat teknologi digital menjadi fondasi baru dalam industri perjalanan.

“Perjalanan wisata Muslim kini mengalami pergeseran yang ditopang oleh kepercayaan digital, kemudahan akses, serta kebutuhan akan kepastian yang lebih besar di setiap tahap perjalanan,” ujar Aisha.

Ia menambahkan, integrasi AI dalam industri pariwisata membuka peluang besar bagi Asia Tenggara untuk memperkuat daya saingnya sebagai kawasan wisata yang inklusif.

“Ketika AI semakin terintegrasi dengan perencanaan perjalanan, destinasi dan pelaku bisnis perlu memastikan informasi terpercaya, sistem pembayaran yang aman, serta layanan ramah Muslim semakin lebih mudah ditemukan dan dimanfaatkan. Bagi Asia Tenggara, ini menjadi peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai koridor perjalanan yang terhubung, inklusif, dan didukung teknologi digital,” katanya.

Selain dipengaruhi perkembangan teknologi, GMTI 2026 juga mencatat perubahan preferensi wisatawan akibat meningkatnya ketidakpastian global. Faktor seperti ketegangan geopolitik, kenaikan biaya perjalanan, gangguan ruang udara, hingga isu keamanan membuat wisatawan Muslim cenderung memilih destinasi regional yang lebih dekat dan memiliki tingkat kepastian lebih tinggi.

Asia Tenggara pun menjadi salah satu kawasan yang paling diuntungkan oleh tren tersebut. Selain memiliki konektivitas penerbangan yang kuat, kawasan ini telah membangun ekosistem halal yang semakin matang serta menawarkan kedekatan budaya dengan pasar wisatawan Muslim terbesar.

Dalam pemeringkatan GMTI 2026, Malaysia kembali mempertahankan gelar sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia untuk ke-11 kalinya dengan skor 83. Indonesia berhasil naik tiga peringkat dan menempati posisi kedua bersama Türkiye dan Arab Saudi dengan skor 79, mencerminkan meningkatnya kesiapan destinasi halal di Tanah Air.

Prestasi Indonesia juga diperkuat lewat penghargaan GMTI Awards 2026 yang menobatkan Jawa Barat sebagai Most Promising Muslim-friendly Region (OIC). Penghargaan tersebut menunjukkan potensi daerah dalam mengembangkan wisata halal di luar destinasi-destinasi utama.

CEO CrescentRating & HalalTrip, Fazal Bahardeen, menilai destinasi wisata kini dituntut bertransformasi dari sekadar menyediakan fasilitas menuju membangun kepercayaan digital.

“Wisatawan modern menginginkan kepastian sebelum berangkat dan makin banyak di antara mereka yang menyerahkan proses verifikasi itu kepada intelligent system. Hal ini menuntut adanya pergeseran struktural dari kesiapan destinasi yang bersifat pasif menuju aktivasi destinasi yang lebih aktif,” ujarnya.

Menurut Fazal, penggabungan kerangka ACES, RIDA, dan TRUST dalam konsep Destination Activation Stack menjadi strategi penting agar destinasi mampu membangun daya saing jangka panjang.

“Integrasi kerangka ACES, RIDA, dan TRUST ke dalam Destination Activation Stack menghadirkan peta jalan yang fleksibel dan multidimensi bagi otoritas pariwisata untuk membangun ketahanan secara real-time, memperkuat kepercayaan konsumen, serta menjaga daya saing pasar untuk jangka panjang,” tutupnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Indofood Tetapkan Dividen Rp290 per Saham, Fokus Perkuat Pertumbuhan Jangka Panjang

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp290 per saham kepada para pemegang saham dalam...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img