Kamis, Juli 16, 2026

AI Makin Canggih, Tenable: Kecepatan Jangan Sampai Mengorbankan Keamanan

Must Read

Momentum AI Appreciation Day menjadi pengingat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya perlu dirayakan sebagai pendorong produktivitas, tetapi juga harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang. Hal tersebut disampaikan Jack Wang, Senior Director ASEAN, Korea, dan Hong Kong di Tenable, yang menilai laju adopsi AI saat ini telah menciptakan budaya kerja yang mengutamakan kecepatan, bahkan sering kali mengesampingkan aspek keamanan dan tata kelola.

Menurut Wang, AI telah mengubah cara perusahaan bekerja dengan memangkas proses yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari menjadi hanya hitungan detik. Percepatan tersebut memang mendorong inovasi, namun juga memunculkan kecenderungan menganggap proses seperti kepatuhan, tata kelola, dan pemeriksaan keamanan sebagai hambatan, bukan kebutuhan.

“AI Appreciation Day seharusnya tidak hanya menjadi perayaan produktivitas, tetapi juga menjadi momen refleksi mengenai bagaimana organisasi mengelola risiko. Kecepatan memang membuka peluang inovasi yang luar biasa, tetapi kemudahan sering kali lebih diutamakan hingga konsekuensinya mulai muncul,” ujar Jack Wang.

Ia menambahkan bahwa tantangan kini bukan lagi sekadar penggunaan AI oleh karyawan, melainkan semakin banyak sistem AI yang terhubung langsung dengan aplikasi perusahaan, data, hingga alur kerja bisnis. Kondisi tersebut membuat AI berperan layaknya “orang dalam” digital yang memiliki kewenangan untuk bertindak atas nama organisasi.

Berdasarkan Cloud and AI Security Risk Report 2026 yang dirilis Tenable, sebanyak 18 persen organisasi memiliki layanan AI dengan hak akses administrator yang jarang diaudit. Selain itu, 52 persen identitas non-manusia, termasuk AI dan sistem otomatis, memiliki izin akses berlebihan yang bersifat kritis, lebih tinggi dibandingkan 37 persen identitas manusia.

Laporan yang sama juga menemukan skala risiko yang semakin besar. Dalam periode 30 hari, Tenable mendeteksi sekitar 457 juta masalah keamanan terkait AI di lebih dari 7.000 organisasi, atau rata-rata 62.000 potensi paparan risiko pada setiap organisasi. Temuan tersebut tidak hanya berasal dari kerentanan perangkat lunak, tetapi juga akibat kesalahan konfigurasi, ketergantungan sistem yang tidak dikelola, serta penggunaan AI tanpa pengawasan yang memadai.

Wang membandingkan situasi saat ini dengan awal adopsi teknologi komputasi awan (cloud), ketika banyak perusahaan berlomba mengimplementasikan teknologi baru tanpa kesiapan keamanan yang memadai. Bedanya, adopsi AI berlangsung jauh lebih cepat dan terhubung lebih dalam dengan sistem bisnis yang bersifat kritikal.

“Memberikan akses kepada AI bukanlah masalah utama. Risikonya muncul ketika organisasi memberikan akses tersebut tanpa visibilitas, pengawasan, dan kontrol yang sama seperti yang diterapkan kepada karyawan dengan hak akses tinggi. Manfaat AI nyata dan tidak dapat dihindari, tetapi kita sedang membangun masa depan yang eksponensial di atas fondasi yang masih rapuh,” tutup Wang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Akuisisi dan Buyback Jadi Motor Strategi Trisula International Perkuat Pertumbuhan

PT Trisula International Tbk (TRIS) menggabungkan strategi penguatan pasar modal dan ekspansi bisnis melalui dua aksi korporasi pada tahun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img