Senin, Juli 27, 2026

Di Tengah Lesunya Properti, Minat Konversi Aset ke Co-living Melonjak 40%

Must Read

Industri properti nasional masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian makroekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga bahan baku. Kondisi tersebut diperparah oleh melemahnya daya beli masyarakat yang berimbas pada penurunan penjualan rumah sebesar 25,67% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal I-2026.

Namun, di tengah perlambatan tersebut, segmen co-living justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Penyedia hunian co-living modern, Cove, mencatatkan lonjakan minat konversi aset menjadi co-living sebesar 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren ini mengindikasikan bahwa co-living mulai dipandang sebagai salah satu instrumen investasi properti yang relatif lebih resilien dibandingkan sektor properti lainnya.

Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo, mengatakan tingginya minat tersebut mendorong perusahaan meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living bagi pemilik aset yang ingin memasuki bisnis tersebut.

“Cove meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living setelah melihat banyaknya pemilik aset yang tertarik dengan ketangguhan lini bisnis ini, namun belum berpengalaman untuk memulai. Mereka tahu bahwa hunian tetap menjadi kebutuhan primer, dan fleksibilitas komitmen finansial yang ditawarkan co-living sangat relevan dengan daya beli masyarakat saat ini,” ujar Rizky.

Menurutnya, di tengah kondisi industri yang masih lesu, Cove justru mampu menambah hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia sepanjang semester I-2026. Tingkat hunian (occupancy rate) rata-rata pun tetap tinggi, mencapai 85%.

“Bahkan di tengah kondisi industri yang cukup pesimis, Cove justru mencatatkan penambahan hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia pada semester I 2026, dengan rata-rata occupancy rate sebesar 85 persen,” lanjutnya.

Cove menilai meningkatnya kebutuhan hunian bagi masyarakat produktif menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan bisnis co-living. Di saat kepemilikan rumah maupun apartemen masih sulit dijangkau, model hunian dengan sistem sewa yang lebih fleksibel dinilai semakin diminati.

Dari sisi investasi, sekitar 70% permintaan konsultasi yang diterima Cove berasal dari pemilik tanah kosong, mayoritas merupakan aset keluarga yang selama ini belum dimanfaatkan. Sisanya berasal dari pemilik ruko yang sudah tidak lagi produktif dan ingin mengubah asetnya menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil.

Fenomena tersebut menunjukkan semakin banyak pemilik aset memilih mengoptimalkan lahan menganggur dibandingkan menahannya atau menjualnya. Co-living dinilai menawarkan arus pendapatan yang lebih prediktif dibandingkan sejumlah jenis properti komersial lain yang lebih rentan terhadap perubahan tren maupun kondisi ekonomi.

Selain itu, fleksibilitas model bisnis turut menjadi daya tarik. Mayoritas calon investor berencana mengembangkan konsep co-living hybrid yang menggabungkan penyewaan bulanan dan harian. Skema tersebut memungkinkan pengelola melayani penyewa jangka panjang sekaligus wisatawan, sehingga potensi pendapatan menjadi lebih beragam.

Dari sisi lokasi, Jakarta dan Surabaya menjadi dua kota dengan minat konversi aset ke co-living tertinggi. Meski demikian, Jakarta mendominasi dengan volume permintaan konsultasi sekitar 200% lebih tinggi dibandingkan Surabaya.

Tingginya permintaan di Jakarta didorong kebutuhan pekerja di kawasan Jabodetabek yang ingin memangkas waktu perjalanan menuju tempat kerja. Sementara Surabaya tetap menjadi pasar potensial karena menjadi pusat aktivitas pekerja dan mahasiswa dari berbagai daerah.

Di Jakarta, kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua lokasi favorit pengembangan co-living. Dalam setahun terakhir, kedua kawasan tersebut mencatat penambahan sekitar 200 hingga 300 kamar co-living dan tetap mampu mempertahankan tingkat okupansi yang sehat meski pasar properti sedang melambat.

Salah satu proyek yang dikembangkan melalui layanan konsultasi Cove adalah Cove Dra House di Menteng. Properti yang dibangun di atas lahan kosong tersebut selesai pada 2025 dan hingga kini masih mencatat tingkat hunian di atas 80%, mencerminkan permintaan terhadap konsep co-living yang tetap terjaga di tengah tekanan industri properti.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bank Saqu Bukukan Kredit Rp 8,6 Triliun, DPK Tembus Rp 8,9 Triliun pada Semester I 2026

Bank Saqu mencatat pertumbuhan bisnis yang solid hingga pertengahan 2026. Bank digital milik Astra Financial dan WeLab tersebut membukukan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img