Selasa, Agustus 18, 2026

Program GENERASI Trakindo Dorong Siswa Jadi Penggerak Sekolah Ramah Anak

Must Read

Program tanggung jawab sosial perusahaan semakin diarahkan untuk menghasilkan dampak yang lebih terukur di lingkungan pendidikan. PT Trakindo Utama melalui Program GENERASI Trakindo 2026 mendorong siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam menemukan solusi atas persoalan yang muncul di lingkungan sekolah.

Mengusung tema Sekolah Ramah Anak, Program GENERASI tahun ini menggunakan pendekatan Challenge Based Learning (CBL) yang menempatkan siswa sebagai penggerak perubahan. Pendekatan tersebut diterapkan di antaranya di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin dan SMP Negeri 1 Lubuk Pakam.

Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, siswa mengidentifikasi persoalan berupa kebiasaan mengejek nama orang tua, penggunaan kata-kata kasar, hingga saling menghina yang kerap dianggap sebagai candaan. Dari persoalan tersebut, lahirlah Papan Kompas atau Kontrol Mulut Pastikan Sopan.

Media pembelajaran tersebut dikemas dalam bentuk permainan edukatif yang menggabungkan sistem penghargaan dan konsekuensi. Konsepnya terinspirasi dari papan perkalian yang kemudian dimodifikasi menjadi permainan bertema petualangan agar lebih mudah diterima siswa.

Nur Fazrian, perwakilan kelompok siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, mengatakan inovasi tersebut mulai memberikan perubahan terhadap interaksi antarsiswa.

“Suasana kelas menjadi lebih damai dan saling menghargai. Yang paling terasa bukan hanya berkurangnya kata-kata kasar, tetapi juga tumbuhnya sikap saling menghargai antarteman sekelas,” kata Fazrian.

Menurut Anugrah Mitria Sari, Guru Pendamping SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, nilai utama dari program tersebut terletak pada proses ketika siswa diberi kesempatan mengidentifikasi persoalan dan mencari solusi sendiri.

“Yang paling membanggakan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mengenali persoalan di sekitarnya dan mencari jalan keluarnya sendiri. Dari proses itu, anak-anak menjadi lebih peka terhadap cara mereka berkomunikasi dan memahami bahwa setiap anak bisa menjadi bagian dari perubahan di sekolah,” ujar Anugrah.

Sementara itu, SMP Negeri 1 Lubuk Pakam mengembangkan solusi untuk persoalan berbeda. Sejumlah siswa diketahui masih enggan mendatangi ruang Bimbingan Konseling (BK) karena khawatir mendapat stigma sebagai siswa bermasalah.

Para siswa kemudian mengembangkan Perisai Pintar, sebuah aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan cerita dan keluhan secara anonim kepada guru BK. Inovasi ini dikembangkan setelah fasilitas kotak curhat yang sebelumnya tersedia di sekolah dinilai belum efektif.

Berdasarkan observasi yang dilakukan siswa, sekitar 60% siswa mendukung pengembangan Perisai Pintar. Selain mencari solusi atas persoalan komunikasi dengan guru BK, proses tersebut juga membuka kesempatan bagi siswa mempelajari pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Angelika Patresia Gultom, perwakilan kelompok siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, mengatakan aplikasi tersebut memberikan ruang yang lebih nyaman bagi siswa untuk menyampaikan persoalan.

“Senang sih, kan saya juga sama teman-teman kan sama-sama seumuran, jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” kata Angelika.

Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam Mennusuriani Saragih menilai pendekatan CBL turut mendorong kemampuan kolaborasi siswa dalam menyelesaikan masalah.

“Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” ujar Mennusuriani.

Secara keseluruhan, Program GENERASI Trakindo hingga 2026 telah menjangkau 205 sekolah di 18 provinsi. Jumlah tersebut terdiri dari 30 SDN dan SMPN mitra serta 175 sekolah imbas.

Sejak pertama kali dijalankan pada 2021, program tersebut telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan persoalan di lingkungan sekolah. Trakindo juga memberikan dukungan berupa pendampingan, fasilitas riset, pendanaan, trainer, pelatihan, serta material untuk membantu siswa dan guru mengembangkan solusi.

Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama Candy Sihombing mengatakan pelibatan siswa menjadi faktor penting agar program pendidikan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

“Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah. Bagi kami, keberhasilan Program GENERASI tidak hanya terlihat dari lahirnya inovasi, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian dan kepercayaan diri siswa untuk menjadi bagian dari perubahan,” jelas Candy.

Dengan model tersebut, Program GENERASI tidak sekadar menempatkan sekolah sebagai lokasi pelaksanaan program sosial, tetapi juga sebagai ruang untuk melatih siswa mengenali masalah, merancang solusi, bekerja sama, dan mengukur dampak. Bagi Trakindo, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, sekaligus mendorong siswa memiliki kepercayaan diri untuk menjadi agen perubahan di sekolahnya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

ULN Indonesia Tembus US$453,4 Miliar, Utang Swasta Masih Tertekan

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat pada triwulan II 2026 seiring kenaikan ULN sektor publik. Bank Indonesia mencatat posisi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img