Roemah Koffie, Member of RAI (Royal Agro Industri), memperkenalkan produk premium roasted coffee beans terbaru bertajuk “Cing Cangkeling”, kopi single origin yang berasal dari Mandalagiri, Garut, Jawa Barat.
Menggunakan varietas Yellow Bourbon yang ditanam di ketinggian sekitar 1.500–1.600 meter di atas permukaan laut, kopi ini menawarkan karakter rasa fruity dan juicy dengan sweetness yang kaya dan berlapis.
Peluncuran Cing Cangkeling digelar di Roemah Koffie Gunawarman dan dihadiri CEO Roemah Koffie Felix TJ bersama Roby Siswanda, pemilik perkebunan kopi di Mandalagiri. Produk tersebut merupakan hasil kolaborasi yang mempertemukan kopi dari kebun keluarga Roby dengan proses pengolahan yang dikembangkan secara mandiri, termasuk metode Red Anaerob dan Classic Natural.
“Bagi kami, setiap kopi memiliki cerita. Melalui Cing Cangkeling, kami ingin membawa cerita dari Mandalagiri ke dalam setiap cangkir, sehingga konsumen tidak hanya menikmati rasanya, tetapi juga mengenal daerah asal, karakter kopi, dan manusia yang telah merawat serta mengembangkannya,” ujar Felix TJ.
Melalui proses Classic Natural, Cing Cangkeling menghadirkan profil rasa dengan notes stone fruit, anggur, beri, dan gula merah. Nama Cing Cangkeling sendiri diambil dari lagu tradisional Jawa Barat yang dikaitkan dengan ungkapan Sunda “cing cicing, kade eling”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menenangkan diri. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan Roemah Koffie melalui pengalaman menikmati kopi sebagai momentum untuk slow down sekaligus mengenal cerita di balik biji kopi.
Dengan profil Espresso Roast, Cing Cangkeling dapat dinikmati dalam sajian Black Coffee maupun White Coffee. Produk ini tersedia dalam kemasan 200 gram di outlet dan kanal e-commerce resmi Roemah Koffie.
Sebagai produk seasonal dengan jumlah terbatas, Cing Cangkeling juga menjadi Beans of the Month mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026. Kehadirannya melanjutkan eksplorasi Roemah Koffie dalam memperkenalkan keragaman kopi Indonesia melalui varian seperti Rambadia, Anak Daro, dan Cublak Suweng.




