PT Pupuk Indonesia (Persero) memperluas strategi industrialisasinya dengan membidik bisnis hilir gas bumi dan produk kimia bernilai tambah. Dalam lima tahun ke depan, perusahaan menyiapkan pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik untuk memperkuat kapasitas industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis.
Ekspansi tersebut menjadi bagian dari transformasi Pupuk Indonesia yang kini tidak hanya bertumpu pada bisnis pupuk. Perusahaan mulai mendorong diversifikasi produk melalui pengembangan soda ash dan metanol, di samping memperkuat kapasitas produksi amonia dan urea.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan agenda industrialisasi tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan perusahaan sejak pembangunan Pabrik PUSRI pada 1959. Menurutnya, transformasi bisnis diperlukan agar perusahaan mampu mempertahankan daya saing sekaligus menjawab kebutuhan industri nasional.
“Industrialisasi merupakan DNA Pupuk Indonesia sejak pembangunan Pabrik PUSRI pada 1959, dan transformasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutannya agar semakin efisien dalam operasional, tangguh, dan mampu menjawab kebutuhan pangan serta industri nasional dalam jangka panjang,” ujar Rahmad.
Delapan proyek yang disiapkan Pupuk Indonesia mencakup revitalisasi Amurea Pusri IIIB, pengembangan Amurea Papua Barat, Amurea PIM III, serta Pabrik NPK Steam Granulasi Gresik. Proyek-proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat kapasitas produksi pupuk.
Selain itu, perusahaan mengembangkan Soda Ash di Bontang dan Gresik serta proyek metanol di Lhokseumawe dan Bontang. Dua lini tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi gas bumi dan diversifikasi bisnis menuju produk kimia bernilai tambah.
Langkah ini dinilai penting di tengah kebutuhan Indonesia untuk memperkuat industri hulu-hilir di dalam negeri. Dengan memanfaatkan sumber daya dan bahan baku domestik, Pupuk Indonesia berupaya menciptakan rantai nilai baru sekaligus menekan kebutuhan impor produk kimia strategis.
“Industrialisasi harus mampu menumbuhkan industri baru, membuka lapangan kerja, memperkuat ekosistem nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis,” kata Rahmad.
Pupuk Indonesia bahkan menargetkan posisi yang lebih luas di industri kimia global. Perusahaan melihat pengembangan produk specialty chemical sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan nilai tambah bisnis di luar komoditas pupuk.
“Pada saat yang sama, pengembangan produk bernilai tambah menjadi bagian dari upaya kami memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai industrial and specialty chemical powerhouse di tingkat global,” ujar Rahmad.
Ambisi ekspansi tersebut ditopang kinerja keuangan yang menguat sepanjang Semester I 2026. Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perusahaan juga meningkat 51% menjadi Rp59,67 triliun. Sementara itu, EBITDA tercatat Rp14,28 triliun atau tumbuh 140%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume produksi dan efisiensi biaya operasional.
Perbaikan kinerja memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan reinvestasi. Pupuk Indonesia menyebut transformasi yang dijalankan bersama Danantara Indonesia turut memperkuat daya saing dan efisiensi perusahaan.
Transformasi dilakukan melalui operational and digital excellence, penguatan peran holding dan business streamlining, penyempurnaan distribusi public service obligation (PSO), hingga penguatan bisnis komersial.
Perusahaan juga memperluas sumber pasokan dan skema kontrak bahan baku untuk mengurangi dampak volatilitas harga komoditas terhadap struktur biaya. Implementasi Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 turut disebut meningkatkan kepastian pasokan bahan baku dan memperkuat disiplin biaya.
Di tengah ekspansi bisnis tersebut, bisnis pupuk tetap menjadi fondasi utama. Dengan kapasitas produksi sekitar 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia masih menempatkan pemenuhan kebutuhan pupuk domestik sebagai prioritas.
Sepanjang 2025, perusahaan menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi, naik 10,68% dibandingkan tahun sebelumnya. Digitalisasi melalui sistem i-Pubers hingga Command Center turut mendukung percepatan penebusan pupuk bersubsidi.
Untuk jangka panjang, Pupuk Indonesia juga menyiapkan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat serta pembangunan pabrik amonia dan urea di Maluku. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Dengan demikian, ekspansi Pupuk Indonesia tidak sekadar mengejar tambahan kapasitas pupuk. Perusahaan mulai membangun portofolio industri yang lebih luas dengan menggabungkan ketahanan pangan, hilirisasi gas bumi dan pengembangan bahan kimia bernilai tambah.
“Bagi kami, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari kinerja keuangan atau seberapa banyak pupuk yang diproduksi, tetapi dari seberapa besar kontribusi Pupuk Indonesia dalam memastikan pupuk semakin mudah diakses petani, memperkuat industri nasional, dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan,” pungkas Rahmad.




