Rabu, Oktober 7, 2026

East Ventures, Temasek Foundation, Tencent Suntik Rp15 Miliar untuk Inovasi Iklim di Indonesia

Must Read

Investasi untuk teknologi iklim di Indonesia mulai diarahkan tidak hanya pada pengembangan inovasi, tetapi juga tahap pembuktian dan komersialisasi. East Ventures, Temasek Foundation, dan Tencent melalui Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026 menyiapkan dana katalitik total Rp15 miliar untuk tiga inovasi teknologi iklim yang dinilai memiliki potensi diterapkan di Indonesia.

Dana tersebut masing-masing sebesar Rp5 miliar diberikan kepada tiga pemenang CIIC 2026, yakni CRecTech untuk kategori Transisi Energi, Blueyou pada kategori Solusi Alam & Pangan, serta MacroCycle Technologies untuk kategori Ekonomi Sirkular.

CIIC 2026 merupakan penyelenggaraan keempat sejak kompetisi tersebut pertama kali digelar. Tahun ini, ajang yang diluncurkan pada 8 April 2026 tersebut mencatat lebih dari 850 pendaftar dari sekitar 60 negara. Sembilan finalis kemudian disaring untuk berkompetisi dalam Grand Finale yang digelar pada 6 Oktober 2026 sebagai bagian dari Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026.

Partner East Ventures Avina Sugiarto mengatakan, kompetisi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencari inovasi, tetapi juga membangun fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh melalui solusi iklim.

“Climate Impact Innovations Challenge mencerminkan keyakinan kami bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang menjawab tantangan iklim saat ini, tetapi juga membangun fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang yang tangguh,” kata Avina.

Dari sisi teknologi, CRecTech menawarkan solusi untuk mengolah biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi bio-metanol. Teknologi tersebut diklaim mampu menekan biaya produksi hingga 50% dan mengurangi emisi hingga 93%.

CRecTech akan menggunakan dana katalitik tersebut untuk mempercepat tahap uji coba hingga penerapan komersial di Indonesia. Perusahaan juga menyebut telah menyiapkan kerja sama dengan sejumlah mitra lokal, termasuk Pertamina.

“Kami mengolah biogas yang belum termanfaatkan dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi bio-metanol hijau yang terjangkau. Dengan dukungan pendanaan katalitik dari CIIC, kami akan mempercepat tahap uji coba dan penerapan komersial di Indonesia bersama mitra lokal, termasuk Pertamina,” ujar Co-Founder & CEO CRecTech Lim Kang Hui.

Sementara itu, Blueyou mengembangkan model restorasi mangrove di lahan terdegradasi yang dikombinasikan dengan produksi pangan biru tanpa penggunaan pakan maupun bahan kimia. Model tersebut ditujukan untuk menggabungkan pemulihan ekosistem dengan peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk meningkatkan pendapatan petani kecil hingga tiga kali lipat.

Adapun MacroCycle Technologies mengembangkan teknologi untuk mendaur ulang poliester dari tekstil menjadi bahan tekstil kembali. Teknologi tersebut diklaim mampu mengurangi penggunaan energi dan emisi karbon masing-masing hingga 80%, sementara penggunaan air dapat ditekan hingga 99%, dengan harga yang setara dengan produk konvensional.

Bagi MacroCycle, kemenangan tersebut membuka peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai basis pengembangan proyek pertamanya di Asia. Potensi pasarnya cukup besar mengingat lebih dari 80% manufaktur tekstil dunia berlangsung di Asia.

“Penghargaan ini memungkinkan kami untuk secara resmi meluncurkan proyek pertama kami yang berbasis di Asia dan mulai menangani secara langsung besarnya volume limbah tekstil yang terdapat di kawasan ini, khususnya di Indonesia,” kata Co-Founder & CEO MacroCycle Technologies Stwart Pena Feliz.

Di luar dana katalitik Rp15 miliar, CIIC 2026 juga memicu komitmen pendanaan dan investasi tambahan. Tencent berkomitmen melakukan pra-pembelian kredit karbon senilai US$1 juta kepada Yagasu. Sinar Mas Agribusiness & Food memberikan hibah US$50.000 kepada CRecTech, sedangkan Mana Impact menginvestasikan US$50.000 kepada Blueyou dan Vinerock Capital menanamkan US$50.000 kepada CRecTech.

Temasek Foundation melihat skema tersebut sebagai upaya menjembatani inovasi iklim dengan kebutuhan implementasi di tingkat lokal. Head, Climate and Liveability Temasek Foundation Heng Li Lang mengatakan CIIC akan membantu inovator melakukan validasi, pengembangan skala, hingga penerapan solusi.

“Dengan mengidentifikasi solusi unggulan dari berbagai negara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan diterapkan di tingkat lokal, CIIC akan mendukung para inovator di bidang iklim untuk memvalidasi, mengembangkan skala, dan pada akhirnya menjawab sejumlah tantangan iklim terbesar yang dihadapi umat manusia,” ujar Heng.

Sementara itu, Tencent menilai dukungan terhadap inovasi berbasis alam menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk ketahanan Indonesia. Vice President for Sustainable Social Value Tencent Xu Hao mengatakan pilot project menjadi tahapan penting untuk menguji apakah solusi iklim dapat menghasilkan dampak sekaligus memiliki model bisnis yang berkelanjutan.

“CIIC menjadi jembatan penting antara ide-ide yang menjanjikan dan dampak nyata di lapangan. Kami berharap dukungan ini dapat membantu inovasi berbasis alam membuktikan nilainya, berkembang menjadi solusi yang berkelanjutan secara komersial, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Xu.

Dengan struktur pendanaan yang menggabungkan dana katalitik, hibah, investasi, dan komitmen pra-pembelian kredit karbon, CIIC 2026 menunjukkan bahwa pengembangan teknologi iklim mulai bergerak dari tahap kompetisi inovasi menuju pembuktian nilai ekonomi dan penerapan komersial. Bagi Indonesia, model tersebut berpotensi membuka ruang bagi teknologi di sektor energi, pangan, dan ekonomi sirkular untuk masuk lebih jauh ke rantai industri domestik.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

TOP Coffee Bagikan 10.000 Gelas Kopi Gratis di 4 Kota, Bidik Tren Konsumsi Kopi Masyarakat

TOP Coffee memanfaatkan momentum Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada 1 Oktober 2026 untuk memperkuat kedekatan dengan konsumen melalui...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img