Pasar pencahayaan pintar (smart lighting) berpotensi tumbuh pesat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang fleksibel dan terintegrasi dengan teknologi. Signify (Euronext: LIGHT), perusahaan global di bidang pencahayaan, melihat perubahan gaya hidup konsumen di Asia sebagai peluang untuk memperluas penggunaan teknologi tersebut, termasuk di Indonesia.
Pasar smart lighting diproyeksikan meningkat dari US$27,98 miliar pada 2025 menjadi US$173,21 miliar pada 2034. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi yang dapat menyesuaikan fungsi rumah dengan beragam aktivitas penghuninya.
CEO Signify As Tempelman mengatakan, perkembangan hunian terkoneksi atau connected home tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan produk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita sering membicarakan connected home sebagai cerita tentang teknologi. Namun, saya meyakini bahwa connected home adalah cerita tentang manusia serta bagaimana kehidupan dan ekspektasi mereka terhadap rumah terus berkembang,” ujar As Tempelman dalam diskusi panel mengenai perubahan gaya hidup dan perkembangan hunian terkoneksi di Asia.
Menurut dia, pencahayaan memiliki peran strategis karena dapat menyesuaikan suasana ruangan dengan aktivitas penghuni, mulai dari bekerja, belajar, berkumpul bersama keluarga, hingga beristirahat.
Peluang tersebut didukung perubahan pola pemanfaatan ruang di Asia Pasifik. Data Pew Research Center menunjukkan lebih dari empat dari sepuluh orang di kawasan tersebut tinggal bersama keluarga besar. Sementara itu, keterbatasan ruang membuat satu area di rumah kerap digunakan untuk berbagai keperluan.
Perubahan pola kerja juga memperkuat kebutuhan terhadap hunian yang fleksibel. Studi Reeracoen × Rakuten Insight mencatat 72% pekerja di Asia Pasifik memilih sistem kerja hybrid, meskipun baru 46% yang memperoleh kesempatan bekerja dengan sistem tersebut.
Situasi itu mendorong kebutuhan terhadap teknologi rumah yang praktis dan tidak menambah kompleksitas bagi pengguna. Signify menilai pencahayaan menjadi salah satu elemen yang relatif mudah diadopsi konsumen untuk memulai transformasi menuju hunian pintar.
Berdasarkan kunjungan ke rumah konsumen di sejumlah negara ASEAN, Signify menemukan bahwa keputusan menggunakan teknologi pintar kerap muncul ketika masyarakat menghadapi perubahan kehidupan, seperti pindah rumah, melakukan renovasi, atau mulai membangun keluarga.
Di Indonesia, perusahaan melihat peningkatan aspirasi konsumen terhadap pencahayaan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan penerangan, tetapi juga mendukung kenyamanan di dalam rumah, termasuk di kamar anak dan area bersantai.
Peralihan dari pencahayaan konvensional ke smart lighting membuka ruang bagi produsen untuk menawarkan produk dengan fungsi yang lebih beragam. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna mengatur warna dan intensitas cahaya, menjadwalkan pengoperasian lampu, serta mengendalikan pencahayaan melalui ponsel pintar, kendali jarak jauh, atau asisten suara.
Untuk menangkap peluang pasar, Signify mengandalkan rangkaian Philips Smart Lighting yang terdiri atas smart bulb, downlight, light strip, light bar, dan smart spotlight. Produk-produk tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan karakteristik hunian dan aktivitas yang berbeda.
President Director Signify Commercial Indonesia Dedy Bagus Pramono mengatakan, kemudahan penggunaan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan perusahaan dalam mengembangkan produk pencahayaan pintar.
“Philips Smart Lighting telah dirancang agar mudah digunakan, intuitif, dan memahami kebiasaan pengguna,” ujar Dedy.
Dia menambahkan, rangkaian produk tersebut dirancang agar pencahayaan pintar dapat terintegrasi dengan rutinitas konsumen dan membuat aktivitas di rumah lebih nyaman.
Di tengah potensi pertumbuhan pasar, kemampuan produsen menghadirkan teknologi yang mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan rumah tangga menjadi faktor penting dalam memperluas adopsi smart lighting. Dengan demikian, peluang industri tidak hanya terletak pada penjualan perangkat, tetapi juga pada kemampuan menjadikan teknologi pencahayaan sebagai bagian dari keseharian masyarakat.




