Kamis, Oktober 15, 2026

AI Ubah Kebutuhan Kantor, Perusahaan Fokus pada Produktivitas dan Talenta

Must Read

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah strategi perusahaan dalam mengelola ruang kerja di kawasan Asia Pasifik. Namun, dampak awal AI diperkirakan lebih terasa pada struktur tenaga kerja, kebutuhan keterampilan, dan cara kerja dibandingkan pengurangan luas ruang kantor.

Riset terbaru Colliers dalam laporan Asia Pacific Workplace Insights menunjukkan, perkembangan AI justru berpotensi meningkatkan peran kantor sebagai tempat kolaborasi, pembelajaran, dan inovasi. Seiring mayoritas karyawan kembali bekerja di kantor, perusahaan kini mulai mengalihkan perhatian dari tingkat kehadiran menuju produktivitas dan nilai bisnis yang dihasilkan dari tempat kerja.

Tekanan biaya yang meningkat juga mendorong perusahaan untuk lebih selektif dalam mengalokasikan modal, dengan memprioritaskan ruang kerja yang mampu mendukung talenta, produktivitas, dan pertumbuhan bisnis.

Laporan tersebut mencatat, seluruh responden memperkirakan AI akan menciptakan posisi pekerjaan khusus baru yang membutuhkan keterampilan, kemampuan, dan pola kolaborasi berbeda. Sebanyak 100% responden menilai dampak terbesar AI akan terlihat pada produktivitas dan hasil kerja, diikuti perubahan keterampilan serta jenis pekerjaan sebesar 73%, dan struktur tenaga kerja sebesar 61%.

Temuan ini sekaligus menantang anggapan bahwa penerapan AI akan secara luas mengurangi kebutuhan ruang kantor. Sebanyak 47% responden memperkirakan AI akan mendorong permintaan terhadap format dan jenis ruang kerja yang berbeda. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 36% responden yang memperkirakan kebutuhan ruang kantor akan berkurang.

“Temuan ini menunjukkan bahwa dampak pertama dan paling langsung dari AI akan dirasakan pada tenaga kerja, keterampilan, serta cara pekerjaan dilakukan, bukan sekadar mengurangi permintaan ruang kantor,” kata Mike Davis, Managing Director Occupier Services Asia Pasifik Colliers.

Menurut Davis, seiring perusahaan mengadopsi AI, ruang kerja perlu berkembang untuk mendukung kolaborasi, pembelajaran, inovasi, dan pertukaran pengetahuan. Karena itu, strategi pengelolaan tempat kerja perlu disesuaikan dengan transformasi tenaga kerja yang sedang berlangsung.

Laporan Colliers juga menemukan bahwa 82% perusahaan di kawasan Asia Pasifik kini menerapkan model kerja yang berpusat di kantor. Sementara itu, sebanyak 80% responden memperkirakan tidak akan ada perubahan berarti dalam kebijakan tempat kerja mereka selama 12 bulan ke depan.

Alih-alih mengubah kebijakan kehadiran, perusahaan semakin menekankan fungsi kantor dalam mendukung kinerja bisnis. Sebanyak 55% responden menempatkan produktivitas dan kinerja bisnis sebagai fungsi utama kantor, disusul kolaborasi dan inovasi sebesar 52%.

Meski demikian, pengukuran efektivitas ruang kerja masih menjadi tantangan. Sekitar satu dari empat perusahaan belum mengukur efektivitas tempat kerja secara formal, sedangkan 10% lainnya masih mengandalkan umpan balik dari pimpinan.

“Bagi sebagian besar organisasi, pertanyaannya bukan lagi apakah karyawan harus bekerja di kantor, melainkan bagaimana tempat kerja berkontribusi terhadap produktivitas, kolaborasi, inovasi, dan kinerja bisnis,” ujar Davis.

Ia menambahkan, perusahaan yang mampu menciptakan nilai terbesar adalah organisasi yang menyelaraskan strategi tempat kerja, teknologi, dan talenta dengan sasaran bisnis yang terukur.

Di tengah tekanan biaya, perusahaan juga cenderung mengutamakan penciptaan nilai dibandingkan pengurangan luas ruang kantor. Sebanyak 75% responden menyebut biaya hunian kantor sebagai salah satu faktor utama dalam pengambilan keputusan terkait tempat kerja.

Namun, langkah yang dipilih mayoritas perusahaan bukanlah memangkas ruang. Sebanyak 40% responden berencana memperpanjang sewa kantor yang ada, 29% mempertahankan luas ruang saat ini, dan 17% akan menata ulang konfigurasi tempat kerja. Hanya 13% yang berencana mengonsolidasikan ruang kantor dalam 12 bulan mendatang.

Chris Archibold, Managing Director Office Services Asia Tenggara Colliers, mengatakan perusahaan terkemuka mulai menyadari bahwa properti bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan kinerja talenta.

“Ketika tenaga kerja mencakup sekitar 65% dari biaya bisnis, sedangkan tempat kerja fisik hanya mewakili 15%, peran utama kantor adalah menjadi pengganda produktivitas bernilai tinggi bagi investasi sumber daya manusia yang jauh lebih besar tersebut,” kata Archibold.

Meski demikian, laporan tersebut mengidentifikasi kesenjangan dalam perencanaan perusahaan di kawasan Asia Pasifik. Sebanyak 62% responden memperkirakan pola kerja lintas fungsi dan berbasis proyek akan semakin berkembang. Namun, 57% perusahaan belum menyelaraskan perubahan tenaga kerja akibat AI dengan jadwal berakhirnya kontrak sewa serta kebutuhan ruang kantor pada masa mendatang.

Hanya 7% responden yang menyatakan telah sepenuhnya menyelaraskan transformasi tenaga kerja dengan perencanaan sewa kantor. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan kebutuhan tenaga kerja berpotensi tidak sejalan dengan keputusan properti perusahaan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Di sisi lain, Asia Pasifik masih menjadi kawasan yang menarik bagi ekspansi bisnis. Efisiensi biaya operasional menjadi faktor utama dalam keputusan lokasi bagi 68% responden, sedangkan akses terhadap talenta menjadi pertimbangan bagi 50%. Faktor politik hanya disebut oleh 7% responden.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, sebanyak 40% perusahaan menyatakan tidak mengubah rencana ekspansi, sementara 34% lainnya masih aktif memperluas bisnis di kawasan tersebut.

“Talenta tetap menjadi faktor penentu dalam keputusan mengenai tempat kerja dan lokasi bisnis di Asia Pasifik. Perusahaan terus memprioritaskan akses terhadap keterampilan, produktivitas, dan kinerja bisnis,” ujar Davis.

Menurut dia, meskipun faktor geopolitik tetap memengaruhi lingkungan usaha, fundamental pertumbuhan jangka panjang kawasan Asia Pasifik masih menjadi pendorong utama keputusan perusahaan dalam menentukan lokasi dan strategi operasional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

SoftwareOne Satukan Bisnis Crayon, Incar Peluang Pasar AI US$370 Miliar di APAC

SoftwareOne dan Crayon menyelesaikan integrasi bisnis kanal di kawasan Asia Pasifik (APAC) di bawah merek SoftwareOne. Langkah ini menjadi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img