Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN – Institut français d’Indonésie (IFI) turut berpartisipasi dalam Konferensi Musik Indonesia (KMI) dan Rock in Celebes 2026, yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 27 Oktober hingga 1 November 2026.
Melalui partisipasi para profesional industri budaya dan musik Prancis, delegasi Prancis berbagi pengalamannya dalam pengembangan industri musik, kesetaraan gender, representasi seniman, dan tur internasional, sekaligus membuka peluang baru untuk kerja sama antara para profesional musik Prancis dan Indonesia.
Diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan Indonesia, KMI merupakan forum nasional yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari seluruh ekosistem musik di negara ini guna mengembangkan strategi bersama demi mewujudkan industri musik yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan tema “Gerak Seirama” (Moving in Harmony), edisi 2026 ini dibangun berdasarkan rekomendasi KMI 2025, dengan fokus pada implementasi rekomendasi tersebut menjadi tindakan konkret, memperluas kolaborasi antara pemangku kepentingan nasional dan regional, serta memperkuat jangkauan internasional musik Indonesia.
“Presiden Republik Prancis, Emmanuel Macron, dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia pada tanggal 29 Mei 2025 di Borobudur, bersama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meluncurkan strategi budaya bersama (yang dikenal sebagai Deklarasi Borobudur) yang bertujuan untuk memperkuat dan menyusun kerja sama bilateral di bidang warisan budaya serta industri budaya dan kreatif. Di bidang musik, Prancis dan Indonesia sedang membangun kemitraan yang kuat dengan menjalin hubungan antar profesional dan berbagi pengalaman melalui berbagai platform utama, seperti Konferensi Musik Indonesia di Makassar dan AXEAN Festival di Bali. Kami juga mendukung tur rutin para seniman, mulai dari repertoar klasik hingga karya-karya kontemporer. Ambisi kami adalah membangun kemitraan jangka panjang yang didasarkan pada kepercayaan dan keahlian, yang menonjolkan nilai dari kerja sama kami,” ujar Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste dan ASEAN.
Pada 29 Oktober, Carol Meyer, Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Prancis – IFI, turut serta dalam diskusi panel bertajuk “Model Dukungan untuk Industri Musik”. Sesi ini membahas berbagai pendekatan dalam mendukung pengembangan industri musik, dengan menggabungkan perspektif dari Indonesia, Prancis, dan kawasan sekitarnya.
Kesetaraan gender dalam industri musik juga menjadi topik utama dalam sesi “Perempuan dalam Industri Musik”, yang menampilkan Lola Frichet dan Julia Ronget, keduanya merupakan anggota More Women on Stage. Inisiatif yang didirikan oleh Frichet ini mempromosikan keterwakilan perempuan yang lebih besar di atas panggung maupun di balik layar, melalui festival, acara profesional, dan program pelatihan.
Lola Frichet sendiri dikenal sebagai bassis band rock Prancis Pogo Car Crash Control dan dinobatkan sebagai Bassis Terbaik pada tahun 2020 dalam kompetisi internasional #1RiffADay yang diselenggarakan oleh majalah AS She Shreds. Sedangkan Julia Ronget membawa pengalaman yang saling melengkapi di bidang produksi konser dan festival, tur, serta manajemen teknis. Sebagai anggota More Women on Stage, ia terlibat dalam penyusunan program, produksi, dan pelatihan, serta membantu mengembangkan peluang profesional dan jaringan bagi para perempuan di sektor ini.
Delegasi Prancis juga mencakup Emma Folio, seorang anggota tim di balik Sakifo Musik Festival dan Francofolies de La Réunion, serta seorang booker untuk Sakifo Talents. Pekerjaannya menghubungkan para seniman dengan peluang festival dan pasar internasional, termasuk melalui Sakifo dan IOMMA (Indian Ocean Music Market), yang keduanya juga menerima seniman dari Asia Tenggara. Sementara itu, Xiaodong Shen, seorang profesional yang berbasis di Paris dan pendiri agensi tur Mentha Project (Mentha & Partners), memiliki spesialisasi dalam pemesanan dan perwakilan seniman Asia. Pada 29 Oktober, ia bergabung dalam sesi delegasi internasional, dilanjutkan dengan diskusi “Where is Asia Music Industry Going Next” pada 30 Oktober, memberikan perspektif mengenai industri musik Asia dan peluang internasionalnya.
Kontribusi Prancis tidak hanya terbatas pada diskusi konferensi, tetapi juga mencakup peluang pembelajaran praktis bagi para musisi dan profesional musik. Pada 1 November, dua lokakarya terbuka yang dipandu oleh para profesional Prancis diselenggarakan di Fort Rotterdam:
• “Bass Masterclass” — Lola Frichet: sesi yang didedikasikan untuk penampilan bass dan keahlian bermusik, dipandu oleh musisi ternama sekaligus pendiri More Women on Stage.
• “Concert and Tour Preparation” — Julia Ronget: lokakarya praktis yang mengeksplorasi persiapan yang diperlukan untuk menyelenggarakan konser dan tur, membantu para seniman dan tim memahami dengan lebih baik tuntutan pertunjukan live dan tur.
Kedua lokakarya tersebut merupakan bagian dari program publik KMI dan Rock in Celebes 2026 di Fort Rotterdam. Dengan menggabungkan diskusi profesional dan pembelajaran langsung, kontribusi Prancis tersebut mendukung pengembangan keterampilan dan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan dalam ekosistem musik Indonesia.
Sebagaimana dibahas oleh Vincent Degoul, Wakil Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis, bersama Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, partisipasi delegasi Prancis ini juga merupakan upaya berkelanjutan untuk menghubungkan para profesional industri musik Indonesia dengan jaringan internasional. Salah satunya yaitu dengan mengirimkan para profesional Indonesia ke MaMA (Marché des Musiques Actuelles) Music & Convention—konferensi dan acara pameran industri musik yang diselenggarakan di Paris—atau berpartisipasi dalam AXEAN Festival di Bali bersama para profesional Prancis.
Kedutaan Besar Prancis – IFI telah mendukung para profesional Indonesia yang menghadiri MaMA selama beberapa tahun terakhir, seperti Satria Ramadhan – pendiri SRM Band Management dan salah satu pendiri AXEAN Festival – pada tahun 2024; Kukuh Rizal dari Sun Eater dan Donny Heru dari Lalala Festival pada tahun 2025; serta Ferry Dermawan dari Plainsong Live pada tahun 2026. Pertukaran ini menunjukkan bagaimana hubungan profesional dapat berkembang menjadi peluang timbal balik, membawa keahlian internasional ke Indonesia sekaligus memperkuat ikatan antara jaringan musik Indonesia dan global.
Melalui partisipasinya dalam KMI 2026, Kedutaan Besar Prancis – IFI menegaskan kembali komitmennya terhadap kerja sama budaya yang mendukung mobilitas seniman, pertukaran profesional, dan pengembangan industri musik yang lebih inklusif. Dengan menghubungkan para seniman, lembaga budaya, festival, penyelenggara acara, dan profesional industri musik, Prancis dan Indonesia dapat terus membangun kemitraan yang langgeng serta menciptakan peluang baru bagi dunia musik masing-masing./.




