Rabu, November 4, 2026

Bank Neo Commerce Cetak Laba Rp430,98 Miliar hingga September 2026

Must Read

PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih setelah pajak atau profit after tax (PAT) sebesar Rp430,98 miliar hingga September 2026. Capaian ini memperkuat tren profitabilitas perseroan sekaligus mencerminkan keberhasilan strategi penguatan fundamental bisnis di tengah upaya membangun pertumbuhan perbankan digital yang berkelanjutan.

Kinerja Bank Neo Commerce ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko dan kualitas aset yang semakin terukur.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bank Neo Commerce Adrian Soewardjo mengatakan, pencapaian laba hingga kuartal III 2026 merupakan bagian dari strategi perseroan dalam memperkuat fondasi bisnis sebelum memasuki fase pertumbuhan berikutnya.

“Stabilnya raihan laba hingga akhir kuartal III 2026 ini merupakan pencapaian yang menggembirakan bagi BNC. Namun, bagi kami, hal yang lebih penting adalah bagaimana pencapaian tersebut didukung oleh kualitas fundamental bisnis yang semakin baik,” ujar Adrian dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).

Ia menambahkan, perseroan tetap memprioritaskan profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap pengembangan bisnis.

Dari sisi pendapatan, BNC mencatatkan NII sebesar Rp1,69 triliun hingga September 2026. Pendapatan bunga bersih ini menunjukkan tren peningkatan selama tiga kuartal berturut-turut, yakni Rp548,14 miliar pada kuartal I, Rp562,55 miliar pada kuartal II, dan Rp576,04 miliar pada kuartal III 2026.

Peningkatan tersebut mencerminkan kontribusi segmen ritel yang semakin kuat, diiringi upaya menjaga efisiensi biaya dana atau cost of fund (COF).

Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) juga mengalami pertumbuhan. Hingga September 2026, BNC membukukan FBI sebesar Rp90,55 miliar, naik 5,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp85,69 miliar.

Pertumbuhan pendapatan nonbunga ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperluas sumber pendapatan melalui optimalisasi produk dan layanan perbankan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Perkuat Dana Murah dan Intermediasi Selektif

Dari sisi neraca, total aset BNC tercatat sebesar Rp17,19 triliun per September 2026, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun. Sementara itu, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 1,33% secara tahunan menjadi Rp3,92 triliun.

Peningkatan CASA turut mendorong rasio CASA menjadi 33,05%, dibandingkan 28,40% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan dana murah ini menjadi salah satu upaya perseroan untuk mengoptimalkan struktur pendanaan sekaligus meningkatkan loyalitas dan aktivitas transaksi nasabah.

Adapun penyaluran kredit tercatat sebesar Rp6,73 triliun. BNC tetap menerapkan strategi penyaluran kredit secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas debitur, profil risiko, serta potensi imbal hasil yang berkelanjutan.

Adrian menegaskan, perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan skala bisnis, tetapi juga memastikan setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat.

“Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat bagi Perseroan,” ungkapnya.

Efisiensi dan Kualitas Kredit Membaik

Upaya penguatan fundamental juga tercermin dari perbaikan efisiensi operasional. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BNC turun menjadi 81,77% pada September 2026, dari 82,81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, cost to income ratio (CIR) membaik menjadi 31,45%, dibandingkan 31,59% pada September 2025. Perbaikan kedua indikator tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas operasional serta efektivitas pengendalian biaya.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,78%, dari sebelumnya 2,92%. Adapun NPL net tercatat sebesar 0,27%.

Kondisi ini menunjukkan kualitas portofolio kredit yang tetap terjaga di tengah penerapan prinsip kehati-hatian, penguatan tata kelola risiko, dan penyempurnaan proses pengelolaan kredit.

Penguatan permodalan turut memberikan ruang bagi BNC untuk menjaga ketahanan bisnis. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 53,40% pada September 2026, meningkat dari 46,73% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Modal inti perseroan juga tumbuh 10,41% secara tahunan menjadi Rp4,35 triliun, dibandingkan Rp3,94 triliun pada September 2025.

Di sisi profitabilitas, BNC mencatatkan net interest margin (NIM) sebesar 14,30% pada September 2026. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menjaga margin pendapatan bunga melalui pengelolaan aset produktif dan struktur pendanaan secara terukur.

Adrian mengatakan, penguatan kinerja keuangan, permodalan, teknologi, serta kualitas sumber daya manusia dan proses operasional menjadi fokus perseroan untuk menghadapi fase pertumbuhan berikutnya.

“Kami optimistis, dengan fundamental yang solid, BNC memiliki landasan yang kuat untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai bank dengan layanan digital yang sehat dan tepercaya,” tutup Adrian.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Sebesar 3,23 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia secara tahunan atau year-on-year (y-on-y) mencapai 3,23 persen pada Oktober 2026. Angka...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img