Moneter.co.id – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pembangunan pelabuhan marina sebagai tempat berlabuh kapal pesiar internasional di Labuan Bajo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan anggaran sebesar Rp300 miliar.
“Kita butuh anggaran sekitar Rp300 miliar untuk menyiapkan pelabuhan marina di Labuan Bajo,” katanya di Denpasar, Jumat (14/4).
Menpar turut hadir pada pertemuan dalam rangka pemantapan kerja sama pariwisata antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan operator kapal pesiar internasional asal Amerika Serikat, Carnival di atas kapal pesiar Pasific Eden yang berlabuh di Benoa, Bali, Kamis (13/4).
Menurutnya, anggaran untuk pembangunan pelabuhan marina di Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi prioritas nasional itu bersumber dari kombinasi APBN dan pihak swasta.
“Dengan anggaran itu kita akan persiapkan pelabuhan yang besar dan panjang di Labuan Bajo sehingga kapal-kapal pesiar internasional nantinya bisa berlabuh di sana,” katanya.
Ia menambahkan kisaran anggaran Rp300 miliar juga telah disiapkan pemerintah pusat dikombinasikan dengan swasta untuk pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo.
Sementara, Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakui kerja sama pariwisata dengan Carnival itu telah didukung penuh pemerintah pusat melalui lintas kementerian terkait sehingga pariwisata Labuan Bajo akan menjadi bagian dari fokus pembangunan.
“Pemerintah pusat akan membangun pelabuhan marina di Labuan Bajo serta berbagai infrastruktur pendukungnya sehingga menjadi “home port” berlabuhnya kapal pesiar internasional, ” ujarnya.
Ia mengatakan pembangunan pelabuhan marina ditargetkan akan selesai pada 2019. “Labuan Bajo menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar, selanjutnya dapat menyinggahi berbagai destinasi wisata unggulan lainnya yang menyebar di sepanjang Pulau Flores, Lembata, Timor, Alor, dan Sumba,” ujar Lebu Raya
Jika kapal pesiar internasional dengan kapasitas muatan mencapai ribuan orang nantinya mulai berlabuh, maka wisatawan bisa turun langsung ke darat sehingga dampak secara ekonomi lebih dirasakan secara langsung oleh masyarakat di daerah wisata.
“Ribuan wisatwaan bisa berjam-jam berkunjung ke daerah wisata di darat, dan tentu mereka akan berbelanja, makan, minum, sehingga ekonomi masyarakat bisa bergerak,” katanya.
Persoalan selama ini, katanya, NTT belum memiliki pelabuhan marina yang representatif sehingga kapal-kapal pesiar internasional hanya melewati wilayah perairan Nusa Tenggara Timur atau tidak bisa berlabuh.
Untuk itu, Lebu Raya berharap agar pembangunan pelabuhan marina di Labuan Bajo yang telah didukung penuh pemerintah pusat itu berjalan aman dan lancar sehingga pada 2019 mendatang kapal pesiar internasional sudah masuk ke Nusa Tenggara Timur.
Rep.Top




