Moneter.co.id – Ajakan boikot jaringan kedai kopi asal Amerika Serikat (AS) terus mencuat lantaran adanya pernyataan dari CEO Starbucks, Howard Schultz yang menyerukan dukungannya terhadap aksi pernikahan sejenis atau LGBT. Terkait hal itu, berimbas pada turunnya harga saham Starbucks Corporation (SBUX).
Berdasarkan pada bursa saham NASDAQ tempat di mana saham Starbucks Corporation diperdagangkan, harga saham perseroan dalam 1 bulan terakhir anjlok 9,36% menjadi US$58,25 pada perdagangan Senin (3/7), padahal pada tanggal 5 bulan lalu harga saham perseroan masih bertengger di angka US$64,27.
Hal yang sama diduga terjadi pada pemegang lisensi Starbucks Indonesia, PT MAP Boga Lestari Tbk (MAPB). Harga saham perseroan pada perdagangan hari ini tercatat turun 7,61% menjadi Rp2.910, bandingkan dengan harga saham perseroan di bulan lalu yang masih tercatat di level Rp3.150 per saham.
Analis Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan mengatakan, penurunan harga saham MAP Boga Lestari terjadi bukan semata karena seruan boikot Starbucks.
“Namun ada juga faktor technical correction, apalagi jika melihat perdagangan saham perusahaan di 2 hari lalu yang sempat berada di level tertingginya,” ucapnya, Selasa (4/7)
Menurutya, sentimen boikot memang memengaruhi laju harga saham MAPB, tetapi hanya sedikit. Apalagi jika melihat segmen pasar dari Starbucks sendiri.
“Mayoritas investor saham yang mengoleksi saham MAPB akan bersandar pada faktor fundamental perusahaan. Hal itu baru dapat terefleksi di kinerja kuartal tiga tahun ini,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, adanya isu ini juga secara tidak langsung dapat menguntungkan kompetitor. Karena jika ada investor yang fanatik tentu akan beralih pada perusahaan kopi lain.
“Jika isu boikot ini masuk ke ranah kebijakan, mungkin itu akan berdampak pada penjualan produknya. Saat ini isu tersebut masih merupakan pandangan dari beberapa kelompok saja,” tegas Alfred.
Rep.Hap




