Sabtu, Juni 13, 2026

Ericsson Tetapkan Standar Baru Kecerdasan Jaringan Lewat AI in RAN

Must Read

Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah layanan perangkat lunak terbaru yang membawa model kecerdasan buatan (AI) kelas telekomunikasi langsung ke dalam baseband dan radio jaringan seluler.

Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, performa jaringan, serta penghematan energi, sekaligus membantu operator telekomunikasi menghadapi lonjakan kebutuhan layanan berbasis AI yang semakin berkembang. Solusi yang dapat diterapkan secara komersial ini memungkinkan penyedia layanan komunikasi mengoptimalkan jaringan 5G yang sudah ada tanpa memerlukan perangkat lunak tambahan.

AI in RAN menghadirkan model AI yang mampu bekerja secara real-time di dalam jaringan akses radio (RAN), memproses data dalam hitungan mikrodetik, serta terus belajar dan beradaptasi melalui data berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Teknologi ini juga mendukung Agentic AI yang memungkinkan otomatisasi jaringan tingkat lanjut dan operasional yang lebih cerdas. Ericsson menyebut teknologi ini sebagai langkah nyata menuju jaringan berbasis AI yang mampu mengelola kinerja dan sumber daya secara otomatis.

President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi penggerak utama inovasi di berbagai sektor sehingga memunculkan kebutuhan baru terhadap konektivitas dan otomatisasi jaringan. “AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi. Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi. Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi Indonesia, teknologi ini dinilai memiliki potensi besar dalam memaksimalkan investasi 5G yang telah dilakukan operator. Berdasarkan data GSMA, kebutuhan investasi untuk pengembangan 5G diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun, dan dapat meningkat hingga 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp900 triliun pada 2030. Dengan pendekatan berbasis perangkat lunak, AI in RAN menawarkan cara yang lebih efisien untuk meningkatkan kapasitas dan performa jaringan tanpa harus melakukan investasi infrastruktur yang besar.

Kehadiran AI in RAN juga dinilai sejalan dengan target pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital yang menargetkan cakupan layanan 5G mencapai 32 persen pada 2030. Teknologi ini dapat membantu operator meningkatkan efisiensi spektrum, kualitas pengalaman pengguna, dan efisiensi energi di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas dari sektor industri, bisnis, pemerintahan, hingga pelanggan individu.

Ericsson mengungkapkan bahwa AI in RAN telah diuji melalui lebih dari 15 implementasi dan uji coba komersial di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen dan efisiensi spektrum mencapai 10 persen. Teknologi ini juga mampu mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, akurasi prediksi cakupan jaringan mencapai 90–95 persen, serta meningkatkan presisi penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lebih baik.

Fitur-fitur awal AI in RAN mulai tersedia pada kuartal kedua 2026, termasuk AI-native Scheduler untuk pengalokasian sumber daya jaringan secara otomatis, AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi lokasi pengguna, AI-managed Beamforming guna mengoptimalkan kualitas sinyal, hingga Performance Management dan Augmented Observability yang memungkinkan pemantauan kinerja jaringan dan transparansi operasional AI yang lebih mendalam.

Sejumlah operator global telah menyampaikan dukungan terhadap pengembangan teknologi ini. Senior Vice President & CNO SoftBank Corp., Teruyuki Oya, menilai AI in RAN menjadi langkah penting dalam membawa AI lebih jauh ke dalam jaringan radio. Sementara itu, Bell, SK Telecom, dan Rogers juga melihat teknologi tersebut sebagai fondasi penting untuk menghadirkan jaringan yang lebih cerdas, efisien, serta siap mendukung layanan berbasis AI dan pengembangan jaringan generasi berikutnya.

Principal Analyst Mobile Experts, Joe Madden, bahkan menyebut AI in RAN sebagai salah satu peluang investasi dengan pengembalian terbaik bagi operator seluler dalam beberapa tahun terakhir. “Dengan hanya melakukan upgrade software, operator dapat memaksimalkan kapasitas, meningkatkan visibilitas jaringan, serta menghadirkan layanan berbasis lokasi yang lebih akurat dari jaringan 5G yang telah mereka miliki sebelumnya,” katanya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

INOV Bukukan Penjualan Rp177 Miliar pada Kuartal I 2026, Tumbuh 36 Persen

PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV), perusahaan daur ulang limbah PET terkemuka di Indonesia, mencatatkan kinerja positif pada kuartal...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img