Selasa, April 7, 2026

Allianz Ungkap Tren Penyakit Usai Lebaran, Hipertensi Teratas

Must Read

Momen Lebaran yang identik dengan kebersamaan dan sajian kuliner khas seperti opor ayam, rendang, hingga aneka kue dan minuman manis, kerap membawa perubahan pola makan yang signifikan setelah sebulan berpuasa. Di balik suasana penuh euforia tersebut, perubahan mendadak dalam pola konsumsi ini ternyata berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.

Data dari Allianz Indonesia menunjukkan bahwa periode pasca-Lebaran diwarnai peningkatan klaim kesehatan yang didominasi oleh penyakit terkait pola makan dan gaya hidup. Berdasarkan catatan klaim yang dibayarkan setelah Lebaran 2025 hingga tiga bulan berikutnya, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi kasus terbanyak dengan 718 klaim, disusul sembelit sebanyak 284 kasus dan gastritis atau maag sebanyak 141 kasus.

Selain itu, sejumlah kondisi lain seperti diare, kolesterol tinggi, asam urat, hingga gula darah tinggi juga tetap muncul meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Fenomena ini mencerminkan dampak nyata dari perubahan gaya hidup masyarakat setelah Ramadan.

Head of Claim Cashless, Credentialing, Payment, and Data Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Argie, menjelaskan bahwa pola tersebut merupakan respons tubuh terhadap perubahan konsumsi. “Pola klaim tersebut mencerminkan bagaimana tubuh merespons perubahan pola konsumsi setelah Ramadan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi kesehatan yang tidak terjaga tidak hanya berdampak pada kualitas hidup, tetapi juga berpotensi meningkatkan beban finansial jika tidak diantisipasi sejak dini.

Perubahan dari pola makan yang lebih teratur saat berpuasa menjadi konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam secara tiba-tiba dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh. Kondisi ini kemudian memicu berbagai gangguan kesehatan yang umum terjadi setelah Lebaran.

Hipertensi, misalnya, dapat dipicu oleh tingginya asupan garam dan lemak, sementara gastritis sering muncul akibat pola makan yang tidak teratur. Di sisi lain, konsumsi berlebihan makanan dan minuman manis berisiko menyebabkan hiperglikemia.

Gangguan pencernaan seperti diare dan sembelit juga kerap terjadi, terutama akibat konsumsi makanan yang kurang higienis atau rendah serat. Tak hanya itu, kolesterol tinggi dan asam urat juga menjadi kondisi yang perlu diwaspadai, khususnya bagi individu dengan faktor risiko tertentu.

Untuk mengembalikan kondisi tubuh pasca-Lebaran, masyarakat disarankan mulai kembali ke pola hidup sehat, termasuk mengatur jadwal makan secara teratur, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak asupan serat dari buah dan sayur.

Selain itu, penting untuk mencukupi kebutuhan cairan, rutin beraktivitas fisik, serta membatasi konsumsi minuman manis dan berkafein. Pemeriksaan kesehatan juga dianjurkan, terutama bagi mereka yang mengalami gejala tertentu atau memiliki riwayat penyakit.

“Momentum setelah Lebaran seharusnya menjadi titik awal untuk kembali membangun kebiasaan hidup sehat. Dengan pola hidup yang lebih seimbang dan kesadaran akan risiko kesehatan, masyarakat tidak hanya dapat menjaga kondisi tubuh, tetapi juga meminimalkan potensi beban finansial akibat biaya pengobatan di masa mendatang,” tutup dr. Argie.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Bappenas: Bila Harga Minyak Dunia di Level 100 Dolar AS per Barel Sampai Juni 2026 Hanya Tekan Ekonomi RI Sebesar 0,1 Persen

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memproyeksikan bila harga minyak dunia bertahan pada level 100 dolar AS...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img