Ancaman siber terhadap perangkat seluler di kawasan Asia Pasifik semakin tertarget. Pelaku kejahatan siber kini tidak hanya mengejar jumlah korban sebanyak-banyaknya, tetapi juga membidik kelompok pengguna yang lebih kecil dengan serangan yang lebih persisten.
Temuan terbaru Kaspersky menunjukkan, rata-rata jumlah deteksi ancaman seluler per pengguna yang terdampak di delapan pasar Asia Pasifik melonjak 49% secara tahunan pada kuartal I 2026. Rasio tersebut meningkat dari 4,9 deteksi menjadi 7,3 deteksi per pengguna.
Kenaikan jumlah deteksi per pengguna terjadi di seluruh pasar yang dianalisis, meskipun jumlah total pengguna yang menghadapi ancaman seluler justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola serangan, dengan penjahat siber semakin gigih mengejar individu yang telah menjadi sasaran.
Indonesia menjadi salah satu pasar dengan volume deteksi ancaman seluler terbesar di kawasan Asia Pasifik. Sepanjang kuartal I 2026, Indonesia mencatat 15.163 deteksi serangan. Angka tersebut menempatkan Indonesia bersama India sebagai dua pasar terbesar di kawasan berdasarkan volume deteksi.
India tercatat membukukan 18.187 deteksi pada periode yang sama. Sementara itu, sejumlah pasar lain juga menunjukkan lonjakan aktivitas ancaman. China mencatat 6.797 deteksi atau hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Asia Tenggara, Thailand menjadi salah satu pasar dengan peningkatan paling tajam. Jumlah deteksi ancaman seluler di negara tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 2.494 deteksi. Ironisnya, kenaikan tersebut terjadi ketika jumlah pengguna yang terdampak justru menurun. Akibatnya, rasio deteksi per pengguna meningkat signifikan dari 3,0 menjadi 11,9.
Sri Lanka bahkan mencatat rasio yang lebih tinggi. Jumlah deteksi di negara tersebut mencapai 922 atau tumbuh 132% secara tahunan. Rasio deteksi per pengguna terdampak juga melonjak dari 5,5 menjadi 17,4.
Filipina mencatat 2.011 deteksi, naik 28% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara Bangladesh membukukan 1.859 deteksi atau meningkat 108%. China dan Bangladesh menjadi dua pasar yang mencatat kenaikan baik dari sisi jumlah deteksi maupun jumlah pengguna yang terdampak.
Kaspersky menilai peningkatan tersebut mencerminkan semakin terlokalisasinya modus serangan siber. Penjahat siber menyesuaikan kampanye mereka dengan perilaku pengguna, layanan digital yang populer di masing-masing negara, serta tingginya ketergantungan masyarakat terhadap perangkat seluler.
Ancaman juga tidak lagi sebatas malware konvensional. Para peneliti Kaspersky menemukan peningkatan aktivitas penipuan seluler yang memanfaatkan promosi palsu, halaman phishing, iklan berbahaya, survei palsu hingga rekayasa sosial. Tujuannya adalah membujuk korban agar menyerahkan kredensial maupun informasi pribadi.
Tautan phishing masih menjadi salah satu senjata utama. Pelaku menggunakan domain palsu, teknik typosquatting dengan membuat nama domain yang menyerupai situs resmi, hingga meniru tampilan merek yang sudah dikenal pengguna.
Distribusi tautan berbahaya pun semakin luas. Jika sebelumnya identik dengan email, kini tautan tersebut disebarkan melalui pesan teks, aplikasi pesan instan, media sosial, tawaran pekerjaan palsu, hadiah kripto hingga promosi digital.
Platform pesan instan menjadi sasaran yang semakin menarik bagi pelaku. Akun yang telah diretas dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan tautan berbahaya kepada kontak korban, sehingga pesan tersebut terlihat seolah-olah berasal dari orang yang dipercaya.
Kredensial untuk mengakses platform pesan instan maupun portal layanan pemerintahan juga memiliki nilai tinggi bagi penjahat siber. Akses tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk pencurian identitas, penipuan dan kompromi yang lebih luas terhadap kehidupan digital korban.
Teknik serangan juga semakin sulit dideteksi. Dalam sejumlah kasus, pengguna bahkan dapat terpapar konten berbahaya hanya dengan membuka halaman web yang telah disusupi tanpa melakukan interaksi lebih lanjut. Serangan bertahap yang dimulai dari file, tautan atau pesan yang terlihat tidak berbahaya turut membuat proses identifikasi ancaman semakin kompleks.
Di sisi lain, malware lama masih terus menghantui kawasan Asia Pasifik. India, misalnya, masih menghadapi Trojan Rewardsteal yang menyamar sebagai aplikasi hadiah atau bonus untuk mencuri data sensitif. Trojan Thamera juga kembali muncul dan digunakan untuk membajak perangkat guna membuat akun media sosial palsu dalam jumlah besar.
Kecerdasan buatan atau AI turut memperkuat efektivitas penipuan digital. Riset konsumen global Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist menunjukkan 66% korban meyakini AI digunakan untuk menargetkan mereka. Sebanyak 42% menyebut pesan yang ditulis menggunakan AI, sementara 31% menunjuk penggunaan suara sintetis atau hasil kloning dan 25% mengidentifikasi gambar maupun video deepfake.
Teknologi tersebut memungkinkan penipu menyamar lebih meyakinkan sebagai kontak yang dipercaya korban, termasuk anggota keluarga. Dalam praktiknya, korban kemudian didorong untuk segera mentransfer uang atau memberikan kredensial.
Kecepatan menjadi salah satu faktor yang membuat modus ini semakin berbahaya. Riset Kaspersky menemukan lebih dari separuh atau 52% kasus penipuan yang berhasil berlangsung kurang dari 30 menit, dihitung sejak kontak pertama hingga uang atau data pribadi berpindah tangan.
“Di seluruh wilayah Asia Pasifik, ancaman seluler menjadi semakin canggih; penjahat siber memadukan teknik serangan yang sulit terdeteksi, malware persisten, dan taktik penipuan berbasis AI untuk mengincar konsumen,” ujar Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel Asia Pasifik di Kaspersky.
Menurut dia, semakin meyakinkannya modus penipuan membuat pengguna tidak bisa hanya mengandalkan kewaspadaan saat menghadapi serangan. “Seiring penipuan yang kian meyakinkan dan sulit dikenali, perlindungan diri memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, bahkan sebelum pengguna menyadari bahwa mereka sedang diserang,” katanya.
Kaspersky pun mendorong pengguna untuk memastikan keaslian aplikasi sebelum mengunduhnya serta tidak mudah tergiur tawaran hadiah gratis atau cashback. Pengguna juga perlu mencermati izin akses aplikasi, mengaktifkan autentikasi multi-faktor, serta memverifikasi setiap tautan yang diterima melalui pesan, email maupun media sosial.
Selain itu, sistem operasi dan aplikasi perlu diperbarui secara berkala untuk menutup celah keamanan yang dapat dimanfaatkan penyerang. Kaspersky juga merekomendasikan penggunaan solusi keamanan siber seluler tepercaya sebagai lapisan perlindungan berkelanjutan.




