Selasa, Maret 3, 2026

Balai Kemenperin Temukan Teknologi Penentu Kadar Karet Kering

Must Read

Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) semakin gencar mendorong seluruh unit pelayanan
teknisnya untuk terus aktif melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan
(litbang). Upaya ini untuk menghasilkan inovasi yang mampu mendukung
peningkatan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan, hasil
litbang yang diinisiasi oleh Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran
Industri (BBTPPI) Semarang mengenai penerapan teknologi light scattering berbasis mikrokontroler yang berfungsi untuk
menentukan kadar karet kering.

“Teknologi ini
perlu dimanfaatkan oleh industri karet alam nasional, khususnya yang mengolah
jenis karet alam lembaran atau ribbed
smoked sheet
(RSS),” ujarnya disiaran pers yang diterima MONETER.co.id,
Senin (2/04).

Ia menjelaskan, teknologi tersebut memiliki akurasi yang
lebih baik jika dibandingkan dengan metode gravimetri yang
lazim digunakan di Indonesia. “Bahwa Inovasi dari BBTPPI ini juga telah mendapatkan pengakuan sebagai salah
satu dari 108 Inovasi Indonesia Prospektif oleh Business Innovation
Center dan LIPI,” ucap Ngakan.

Ngakan
menjelaskan, metode gravimetri dilakukan dengan cara memperbandingkan massa
sesudah pengeringan dibandingkan dengan massa sebelum pengeringan.

Berdasarkan hal
tersebut, lanjutnya, diperlukan pendekatan teknologi guna lebih memudahkan.
Maka itu, BBTPPI mengembangkan hasil risetnya. “Teknologi light scattering berbasis mikrokontroler ini juga merupakan metode non-destructive dan tidak menggunakan bahan
kimia dalam proses analisanya sehingga lebih ramah lingkungan,” tegas Ngakan.

Teknologi ini
juga sudah terverifikasi pada standar ISO 126 : 2005 tentang Method Of Test For
Natural Rubber Latex, Determination of Dry Rubber Content.

Menurut Ngakan,
kadar karet kering dalam industri karet merupakan salah satu faktor penentu
baik tidaknya kualitas suatu lateks. “Kadar karet kering lateks atau bekuan
sangat penting untuk diketahui karena selain dapat digunakan sebagai pedoman
penentuan harga, juga menjadi standar dalam pemberian bahan kimia untuk
pengolahan karet RSS, thin pale crepes,
dan lateks pekat,” paparnya.

Sementara, Menteri
Perindustrian Ai
rlangga Hartarto menyampaikan,
pengembangan industri karet hilir di dalam negeri masih cukup prospektif karena
Indonesia
merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam dengan produksi
melebihi tiga juta ton per tahun.

Apalagi, produksi karet alam
nasional masih dapat ditingkatkan mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5
juta hektare serta didukung oleh program-program penelitian dan pengembangan
yang dilakukan baik oleh Pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta,”
ungkapnya.

Berdasarkan
data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), karet alam menyumbang
sebesar 45% untuk bahan baku ban.
Produk ban dalam negeri menjadi salah satu
komoditas andalan ekspor Indonesia. Dari total produksi, 70% diperuntukkan bagi
pasar ekspor dengan nilai mencapai USD1,5 miliar per tahun.

 

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img