Moneter.id
– Bursa Efek
Indonesia (BEI) mendukung perusahaan-perusahaan teknologi dan startup untuk
melantai dan bertumbuh di bursa melalui berbagai kebijakan dan program yang
didesain oleh regulator.
Demikian disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan
Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, Jumat (8/1/21). Katanya, berbagai
upaya terus kami lakukan antara lain melalui Program IDX Incubator, papan
akselerasi dan pengembangan peraturan, serta kebijakan lainnya.
“Diharapkan mendukung perusahaan-perusahaan teknologi
dan startup untuk memanfaatkan pasar modal Indonesia sebagai rumah
pertumbuhan,” ucapnya.
Nyoman menuturkan sepanjang 2020 BEI juga telah
berdiskusi dengan para pendiri dan manajemen perusahaan teknologi serta para
pemodal seperti private equity atau
modal ventura, di mana dari hasil diskusi tersebut pihaknya optimistis bahwa
perusahaan-perusahaan teknologi tersebut dapat segera melakukan penawaran umum
perdana atau IPO.
“Ada dua binaan IDX Incubator yang saat ini
sedang dalam proses evaluasi IPO dan masuk ke dalam pipeline,” kata Nyoman.
Ia menambahkan dunia bisnis terus berkembang dan
berevolusi, dan sebagai penyedia infrastruktur pasar modal, bursa wajib
mengikuti perkembangan tersebut dan “take
action” untuk melakukan adaptasi sehingga dapat memberikan proposisi
nilai bagi pemangku kepentingan.
Bursa juga proaktif mendapatkan masukan mengenai
kebutuhan pemangku kepentingan termasuk calon perusahaan tercatat dan melakukan
perbandingan ke bursa-bursa global.
Ia mencontohkan rancangan perubahan peraturan
pencatatan efek nomor I-A yang saat ini masih dalam tahap “rule-making-rule”, di mana pada Desember lalu Bursa
telah melakukan audiensi publik dan mengundang para pemangku kepentingan untuk
menyampaikan tanggapan atas rancangan peraturan tersebut.
“Tahap berikutnya, bursa akan mematangkan
rancangan tersebut berdasarkan masukan yang diperoleh dan menyampaikan ke OJK.
Kami harapkan peraturan tersebut akan rampung segera,” kata Nyoman.
Dalam rancangan perubahan peraturan pencatatan efek
nomor I-A tersebut, bursa menyiapkan beberapa alternatif persyaratan pencatatan
sehingga lebih dapat mengakomodasi berbagai karakteristik perusahaan yang akan
mencatatkan sahamnya di BEI, dan tidak terbatas hanya kepada unicorn startup di
Indonesia.
“Bursa Efek Indonesia selalu berupaya menjadi
lebih inklusif tidak hanya untuk perusahaan-perusahaan teknologi namun juga
perusahaan lainnya yang mempunyai karakteristik beragam dalam rangka mendukung
pengembangan bisnis melalui pasar modal,” ujar Nyoman.




