Moneter.id – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya wirausaha
industri baru dalam menyambut peluang era ekonomi digital. Upaya
strategis dari salah satu program prioritas dalam peta jalan Making Indonesia
4.0 ini guna merebut potensi ekonomi digital yang akan meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar 150 miliar dollar AS pada tahun 2025.
“Pengembangan wirausaha baru ini terutama
berfokus pada industri kreatif, yang telah mampu memberikan kontribusi
besar terhadap PDB dengan mencapai Rp1000 triliun pada tahun 2018,”
kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar di Jakarta, Minggu
(5/5).
Adapun tiga subsektor yang memberikan dukungan besar
terhadap ekonomi kreatif, yakni industri kuliner sebesar 41,69%, disusul
industri fesyen (18,15%), dan industri kriya (15,70%). Bahkan,
industri animasi saat ini cukup potensial berkembang, pertumbuhannya
sudah di atas 6%.
Haris menuturkan, upaya konkret yang dilakukan
pemerintah untuk mendorong jiwa wirausaha para pegiat industri kreatif, antara lain memfasilitasi dengan
kegiatan pendidikan
dan pelatihan (diklat).
“Misalnya,
sejak tahun 2015,
kami
menyelenggarakan Diklat Animasi, Programming, dan Desain Grafis di Bali
Creative Industry Center (BCIC) yang dikelola oleh Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar,”
ungkapnya.
Selain
itu, Kemenperin juga membuat Inkubasi Bisnis (Inbis) TohpaTI untuk membina
wirausaha yang ada dan menumbuhkan pelaku startup
baru. “Setiap tahun, Inbis TohpaTI menghasilkan sekitar sembilan hingga sebelas
tim startup di bidang animasi,
desain, dan
software developer. Beberapa alumni
ada yang sudah mendapat investasi hingga Rp 100 juta. Omzet yang didapat
bervariasi, mulai dari Rp10–100 juta rupiah setiap
bulannya,” imbuhnya.
Kompetensi
teknis seperti Programming, Data Science,
Cyber Security, System Integrator, serta Desain dan Pemodelan animasi
diyakini menjadi modal utama para pelaku industri kreatif digital.
“Kami
juga ingin terus meningkatkan motivasi dan bakat kepemimpinan para generasi
muda agar siap menghadapi era digital di industri 4.0,” tandas Haris.
Untuk
itu, Kemenperin melalui BDI Denpasar mendorong para pelaku industri kreatif di
Bali untuk memanfaatkan
Bikin Makerspace, sebuah co-working space
bidang kerajinan dan desain produk.
“Kami
berkolaborasi dengan universitas di Bali, industri, serta komunitas kreatif,
animasi dan digital
yang tersebar di Sumatera, Jawa dan Bali. Silakan manfaatkan seluruh fasilitas
tanpa perlu membayar
sama sekali,” ujar Kepala BDI Denpasar Paryono.
Guna menumbuhkan startup
baru serta memacu pembangunan industri digital di Tanah Air, Kemenperin
juga menyelenggarakan acara Kampoeng IT 2019. Sejak diselenggarakan pertama
kali pada tahun 2016, acara tahunan ini telah berhasil menarik lebih dari 100
peserta yang berlaga di Lomba
Ide Bisnis Digital, Lomba Pemrograman, Data Science, hingga Kompetisi e-Sport.
“Pada
tahun ini, kami juga menandatangani perjanjian kerja sama pengembangan SDM industri kreatif dengan Asosiasi
Pengusaha TIK Nasional, LIPI, Asosiasi Industri Animasi Indonesia, serta Maxx
Animation dan Lintas Imaji Studio,” tutur Paryono.
Paryono mengemukakan, Kampoeng IT 2019 ini secara
khusus ditujukan sebagai wadah kolaborasi akademisi, wirausaha baru binaan Inbis TohpaTI, asosiasi
industri, komunitas industri kreatif, serta perusahaan startup dari kota Denpasar.
“Menariknya, total 20 tim pemenang Kampoeng IT juga
akan memamerkan kreativitas di acara pameran. Mereka dapat mempresentasikan
idenya kepada calon investor atau audiens yang hadir,” tuturnya.
Paryono berharap BCIC atau TohpaTI berhasil menjadi wadah yang produktif dalam mencetak SDM kreatif di bidang multimedia, animasi, kriya dan barang seni. “Seperti yang kita lihat, Market Hub,
Simalu, Inidia Studio dan Cokelat Panas Creative adalah beberapa contoh yang
pelaku startup yang
membuat software dan
aplikasi unggulan. Ini adalah contoh dari perkembangan ekonomi digital
yang dihasilkan oleh anak-anak Indonesia,” ujarnya.




