Selasa, Maret 3, 2026

Bidik IKTA 4 Persen di 2018, Kemenperin Perdalam Struktur Industri

Must Read

Moneter.co.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik
pertumbuhan sektor Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) pada tahun 2018 di
kisaran 3-4%. Pada tahun 2017, sektor ini mampu mencatatkan kinerjanya sebesar
2,91% atau di atas pertumbuhan tahun 2016 yang mencapai 1,76%.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Kemenperin
terus berupaya mengakselerasi pertumbuhan IKTA melalui pendalaman struktur
industri serta melakukan peningkatan investasi dan ekspor. IKTA merupakan
kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Kami telah memiliki berbagai langkah strategis dalam
mendorong pengembangan industri nasional, termasuk di sektor IKTA
yang punya potensi dan berpeluang besar dapat
tumbuh dan semakin berdaya saing. Hal ini guna memacu pertumbuhan ekonomi
kita,” kata Airlangga pada acara Breakfast Meeting dengan Pelaku Usaha Sektor
IKTA di Jakarta, Senin (19/2).

Selanjutnya, lanjut Airlangga, Kemenperin mencatat,
kontribusi sektor IKTA terhadap PDB nasional sebesar 4,54% pada tahun 2017.
Adapun subsektor sebagai penyumbang terbesar adalah industri bahan kimia dan
barang kimia (1,25%), diikuti industri pakaian jadi (0,80%), industri barang
galian bukan logam (0,66%), serta industri karet, barang karet, dan plastik
(0,63%).

Menperin mengungkapkan, pihaknya tengah memprioritaskan
pendalaman struktur di i
ndustri
bahan kimia dan barang kimia. Misalnya, di sektor hulu yang
menghasilkan produk petrokimia berbasis nafta cracker dan produsen penyedia
bahan baku obat untuk farmasi.

“Apabila kebutuhan tersebut dapat diproduksi di dalam negeri, tentu meningkatkan nilai tambah bagi
sektor manufakur nasional,” tuturnya.

Kemenperin sudah memfasilitasi pemberian insentif fiskal
seperti tax allowance dan tax holiday supaya bisa menarik
investasi dari para pelaku industri yang ingin mengembangkan pabrik bahan baku
di Indonesia.

Selain itu,
diperlukan juga dukungan ketersediaan bahan baku, harga energi yang kompetitif,
sumber daya manusia (SDM) kompeten,
penggunaan teknologi
terkini, dan kemudahan akses pasar.

Kemenperin menargetkan nilai investasi di sektor IKTA
akan mencapai Rp117 triliun pada tahun 2018, naik dari realisasi tahun 2017
yang diperkirakan menembus hingga Rp94 triliun.
Penanaman modal dari sektor IKTA tahun ini diproyeksi bakal
menyumbang sebesar 33% terhadap target investasi secara keseluruhan pada
kelompok manufaktur nasional sebanyak Rp352 triliun.

Menperin menyampaikan, sedikitnya ada tiga perusahaan yang
telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan sektor industri
petrokimia di Indonesia.
“Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan
baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri. Sehingga nanti kita
tidak perlu lagi impor,” tegasnya.

Pertama, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. selaku
industri nasional, akan menggelontorkan dana sebesar USD6 miliar sampai tahun
2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi. Kedua, industri petrokimia
asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan merealisasikan investasinya
sebesar USD3-4 miliar untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas
sebanyak 2 juta ton per tahun.

Dan, ketiga, manufaktur
besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), juga berencana membangun fasilitas
produksi nafta cracker senilai USD600
juta di Cilegon, Banten. “
Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., Indonesia akan mampu menghasilkan bahan
baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3 juta ton per tahun. Bahkan,
Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar ke-4 di ASEAN setelah
Thailand, Singapura dan Malaysia,” papar Menperin.

Di samping itu, Kemenperin mencatat, beberapa perusahaan
farmasi dan bahan baku obat yang telah menggelontorkan dananya untuk investasi
di Indonesia, antara lain
PT. Kimia Farma Sungwun Pharmacopia
sen
ilai Rp132,5 miliar
dan
PT. Ethica Industri
Farmasi sebesar Rp1 triliun. Sedangkan, di sektor kosmetika,
PT. Unilever Indonesia melakukan perluasan
pabrik
dengan nilai investasi mencapai Rp748,5 miliar.

Menperin menyebutkan, industri farmasi menjadi salah
satu subsektor yang diharapkan berkontribusi signifikan untuk mencapai target pertumbuhan
industri pengolahan nonmigas tahun 2018 yang telah ditetapkan sebesar 5,67%. “I
ndustri
farmasi

sudah
mampu menyediakan 70%
dari kebutuhan
obat dalam negeri,”
ungkapnya
.


(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img