Selasa, Maret 3, 2026

Bisnis Ritel Lesu, Prasetiya Mulya Berbagi Solusi dan Strategi

Must Read

Moneter.id – Masa-masa
emas bisnis ritel di Indonesia sudah mulai redup ditandai banyaknya ritel-ritel
raksasa yang gulung tikar dan menutup gerainya.
 Oleh karena itu dibutuhkan strategi baru untuk
mengembangkan bisnis ritel sesuai dengan perkembangan zaman yang serba digital
saat ini yakni melibatkan faktor luar dalam mengambil keputusan bisnis seperti
strategi 
omni-channel marketing
dimana terdapat interkoneksi aktivitas bisnis secara
online dan offline.

Dekan School
of Business & Economics
Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi mengatakan,
bukan hanya menjalankan bisnis secara online dan offline saja, melainkan dibutuhkan omni-channel marketing karena
konsumen cenderung mengkombinasikan aktivitas di toko online dan offline sebelum
melakukan pembelian.

“Kadang
mereka review produk secara online,
lalu ke toko offline untuk
membeli. Sehingga kegiatan marketing antara online dan offline yang
terintegrasi sangat dibutuhkan,” papar Prof. Agus dalam talkshow Branding Update yang
digagas oleh S1 Branding Prasetiya Mulya bekerja sama dengan Indonesia Branding
Association (IBA) belum lama ini.

Berdasarkan
riset Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO) diungkapkan bahwa
pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pertahun 2016 mengalami penurunan menjadi
9% dibanding tahun 2014 mencapai angka dua digit di 14 hingga 15%.

Product Leadership Director Nielsen Indonesia Krisetiadi
Purwanto menjelaskan, menurut hasil riset The Nielsen Company Indonesia,
penetrasi internet yang luar biasa membuat daya beli masyarakat Indonesia kian
mengalami transisi dari yang mengutamakan belanja produk menjadi mendahulukan
belanja pengalaman.

“Dari hasil
riset terhadap 1500 responden rumah tangga di Indonesia, konsumen masa kini
lebih cenderung menghabiskan dana untuk rekreasi dan gaya hidup ketimbang untuk
konsumsi fast moving consumer goods (FMCG),”
ungkap Krisetiadi Purwanto.

“Konsumen saat
ini melihat social currency yang
akan didapat ketika melakukan pembelian terhadap suatu brand. Peritel
harus mengedepankan pengalaman dan interaksi dalam setiap touch point dengan konsumennya,”
kata Jessica Carla selaku Chief Marketing Enabler startup Anterin.

Sementara, Direktur
Jakarta Aquarium Hans Manansang memaparkan perlunya pendekatan personal
kepada konsumen, yang selanjutnya ia sebut sebagai EPIC Point. “Ritel
harus menawarkan engagement, personalisation, interaction, dan convenience
(EPIC) point ke sisi pengunjungnya,”
jelas Hans Manansang.

Sebagai upaya
untuk meningkatkan kembali performa dari bisnis ritel di Indonesia, Ketua
Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO), Roy N.
Mande menegaskan bahwa industri tidak mati asalkan pebisnis mau
menyesuaikan bisnis modelnya guna menyiasati industri ritel yang sedang under perform.

“Mall
konvensional cenderung sepi pengunjung, sementara new retail seperti
mall berbasis lifestyle yang
memberikan experience kuliner,
hiburan, dan rekreasi semakin ramai dipadati pengunjung. Penyesuaian ini yang
harus dilakukan,” jelas Roy N Mande.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pertamina Buka Program Mudik Gratis 2026, Ini Jadwal Pendaftarannya

PT Pertamina (Persero) kembali menghadirkan program Mudik Bareng Pertamina 2026 sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kelancaran mobilitas...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img