Perusahaan keamanan siber berbasis AI-native, Cyble, memperkuat ekspansinya di pasar Amerika Serikat dengan menunjuk Steve Ingram sebagai Executive Vice President (EVP) Amerika Serikat.
Penunjukan tersebut menjadi bagian dari strategi Cyble untuk mempercepat pertumbuhan bisnis di Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pasar keamanan siber terbesar di dunia. Dalam posisi barunya, Ingram akan bertanggung jawab memimpin bisnis Cyble di AS, termasuk memperkuat hubungan dengan pelanggan dan mitra serta memperluas posisi perusahaan di pasar tersebut.
Ingram membawa pengalaman panjang di bidang keamanan siber, manajemen risiko, jasa keuangan, penegakan hukum, hingga kepemimpinan eksekutif. Sebelum bergabung dengan Cyble secara operasional, ia menjabat sebagai Financial Services Cyber Leader untuk kawasan Amerika di EY.
Di EY, Ingram berperan mendorong pertumbuhan dan transformasi praktik keamanan siber untuk klien di sektor jasa keuangan. Sebelumnya, ia menghabiskan 15 tahun sebagai partner di PwC, termasuk memimpin praktik Cyber PwC di kawasan Asia Pasifik dan menjadi anggota ASEANZ Markets Council.
Pengalaman Ingram di sektor keamanan juga dimulai sejak awal kariernya ketika bertugas di Australian Federal Police.
Menariknya, Ingram bukan sosok baru bagi Cyble. Selama dua tahun terakhir, ia telah menjadi anggota Dewan Penasihat Cyble dan memberikan arahan strategis terkait pengembangan portofolio solusi serta ekspansi global perusahaan.
Peralihan Ingram dari posisi penasihat menjadi pimpinan operasional AS menunjukkan peningkatan fokus Cyble terhadap pasar Amerika Serikat.
“Steve telah menjadi penasihat tepercaya bagi Cyble selama dua tahun terakhir, dan kami sangat senang menyambutnya sebagai Executive Vice President di Amerika Serikat,” ujar Beenu Arora, Co-Founder dan CEO Cyble.
Menurut Arora, pengalaman Ingram menjadi modal penting bagi Cyble untuk mendorong pertumbuhan bisnis di AS. “Ia membawa kombinasi langka antara keahlian keamanan siber, kepemimpinan perusahaan, serta pengalaman bekerja dengan beberapa organisasi terbesar di dunia. Ia memahami teknologi, tim, dan bisnis kami, dan akan membawa pengalaman tersebut ke dalam peran operasional untuk mempercepat pertumbuhan Cyble,” katanya.
Sementara itu, Ingram menyatakan pengalamannya selama menjadi penasihat membuat dirinya memahami teknologi, tim, serta peluang pasar yang dimiliki Cyble.
“Selama dua tahun terakhir sebagai penasihat Cyble, saya telah melihat secara dekat teknologi, tim, serta peluang pasar yang dimiliki perusahaan,” ujar Ingram.
Ia menilai pasar Amerika Serikat memberikan ruang ekspansi yang besar bagi Cyble. “Pasar Amerika Serikat merupakan peluang besar bagi Cyble. Saya bersemangat untuk beralih ke peran operasional, bekerja secara langsung dengan tim, pelanggan, dan mitra, serta membantu membangun bisnis Cyble,” katanya.
Ekspansi di AS dilakukan ketika Cyble terus mengembangkan portofolio keamanan siber berbasis AI-native. Portofolio tersebut mencakup threat intelligence, digital risk protection, endpoint security, hingga agentic AI.
Dengan penunjukan Ingram, Cyble tidak hanya memperkuat kepemimpinan regional, tetapi juga menempatkan pengalaman di sektor korporasi dan keamanan siber sebagai bagian dari upaya memperbesar penetrasi bisnis di pasar AS.




