Moneter.id – Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, dampak perang dagang antara
Amerika Serikat (AS) dan China, memicu potensi tren relokasi pabrik ke
Indonesia. Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia dalam menguatkan struktur
manufakturnya.
“Dengan
trade war itu, kita melihat belakangan ini mulai banyak perpindahan
pabrik dari Malaysia, Thailand, China, Taiwan dan Vietnam,” sebutnya di Jakarta,
Kamis (1/8).
Beberapa
produsen skala global yang telah merealisasikan investasinya adalah industri
elektronika. Adapun sektor lainnya yang akan menyusul, di antaranya industri
tekstil, garmen, dan alas kaki.
Airlangga
menambahkan, terjadinya pertumbuhan di sektor industri, selama ini konsisten
memberikan dampak berganda pada perekonomian nasional. “Adanya investasi masuk,
tentu akan membuka lapangan pekerjaan, sehingga menciptakan multiplier
effect,” tandasnya.
Kemenperin
mencatat, investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar
Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018. Serapan tenaga
kerja di sektor industri juga ikut meningkat, yakni dari 15,54 juta orang pada
tahun 2015 menjadi 18 juta orang di tahun 2018.
“Pengembangan
industri di Indonesia masih prospektif karena kita punya pasar yang sangat
besar. Ini menjadi insentif yang tidak dimiliki oleh negara lain. Kita juga
punya tenaga kerja yang kompetitif,” paparnya.
Di
samping itu, Airlangga berharap, terjadinya peningkatkan kapasitas produksi
akan mendorong industri lebih gencar mengisi pasar global. Peningkatan ekspor
dengan mengoptimalkan utilisasi industri dan memperluas pasar luar negeri
dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan defisit neraca
perdagangan.
“Selama
ini produk manufaktur terus memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian
nilai ekspor nasional. Ini juga menunjukkan bahwa produk kita telah berkualitas
sehingga kompetitif dan industri kita berdaya saing di kancah global,”
paparnya.
Selama
empat tahun terakhir, ekspor dari industri pengolahan nonmigas terus meningkat.
Pada 2015, nilai ekspor produk manufaktur mencapai USD108,6 miliar, naik
menjadi USD110,5 miliar di tahun 2016.
Kemudian,
pada 2017, pengapalan produk nonmigas tercatat di angka USD125,1 miliar,
melonjak hingga USD130 miliar di tahun 2018 atau naik sebesar 3,98%. “Jadi, tahun lalu
kontribusi ekspor produk manufaktur mencapai 72,25%,” ungkapnya.




