Moneter.id
– PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan terus
berkomitmen menjaga tingkat likuiditas dalam level
yang aman guna memenuhi kewajiban jatuh tempo dan kebutuhan operasional bank,
baik untuk penarikan tunai maupun pencairan kredit, termasuk ketika masa
pandemi.
“Termasuk dalam masa pandemi COVID-19
sebelum adanya penempatan dana pemerintah tersebut, semua kebutuhan likuiditas
masih dapat terpenuhi. Dengan adanya penempatan dana pemerintah ini, menambah
keleluasaan Bank Mandiri,” kata
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rully Setiawan
mengatakan di Jakarta, Selasa (30/6/2020).
Sebelumnya, Bank Mandiri mendapatkan
tambahan dana likuiditas Rp10 triliun dari pemerintah. “Bank
Mandiri akan memberikan kredit untuk meningkatkan dan memperluas akses
pembiayaan kepada usaha produktif atau sektor riil, padat karya, ketahanan
pangan, dan mendukung sistem logistik nasional dengan total penyaluran Rp21
triliun selama tiga bulan,” kata Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI Senin
(29/6).
Rinciannya yaitu untuk segmen mikro,
Kredit Usaha Mikro (KUM), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp6 triliun
dengan target sekitar 72 ribu debitur akan fokus di sektor pertanian,
perkebunan, peternakan, perikanan, jasa produksi, industri pengolahan,
perdagangan, pariwisata dan sektor lain yang mendukung ketahanan pangan.
Sedangkan untuk segmen mikro dan Kredit
Serbaguna Mikro (KSM) dengan target 15 ribu debitur senilai Rp1 triliun akan
fokus di sektor pertanian, peternakan, pengolahan, jasa, dan perdagangan. Untuk
segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) senilai Rp6 triliun dengan target seribu
debitur akan fokus di sektor konstruksi, kesehatan, perkebunan, pertanian,
perdagangan, pariwisata, dan koperasi.
Sementara itu, untuk segmen komersial
senilai Rp4 triliun dengan target 90 debitur akan fokus di sektor pertambangan,
energi, FMCG, pariwisata, kontraktor, pertanian, dan perkebunan. Untuk segmen
korporasi senilai Rp4 triliun dengan target 10 debitur akan fokus di sektor
BUMN pupuk, transportasi, dan logistik.
Selain itu, guna
mengantisipasi peningkatan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL), Bank Mandiri akan meningkatkan biaya
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) untuk April 2020 hingga Maret 2021.
Biaya CKPN Bank Mandiri pada kuartal I
2020 mencapai Rp3,47 triliun, naik 28,09 persen dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya Rp2,7 triliun.
Pada kuartal I/2020, Bank Mandiri meraup
laba bersih mencapai Rp7,91 triliun, naik 9,44 persen jika dibandingkan pada
periode sama tahun 2019 yang mencapai Rp7,23 triliun.
Selama Januari-Maret 2020, kinerja Bank Mandiri masih
terbilang sehat karena kasus positif COVID-19 di Indonesia terjadi pada awal
Maret 2020.
Bank Mandiri mencatat total aset selama triwulan pertama
tahun ini mencapai Rp1.320 triliun dengan realisasi kredit konsolidasi mencapai
Rp902,7 triliun atau tumbuh 14,2 persen jika dibandingkan periode sama tahun
lalu.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun mencapai
Rp941,3 triliun selama triwulan pertama tahun ini atau naik 13,72 persen jika
dibandingkan periode sama tahun lalu.
NPL gross pada tiga bulan pertama tahun ini juga
terbilang rendah yakni 2,36 persen dibandingkan tahun lalu mencapai 2,68 persen.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau (CAR) mencapai
17,65 persen dan dari sisi likuiditas loan to funding ratio (LFR) mencapai 92,8
persen.




