PT Pertamina (Persero) mencatat kemajuan dalam agenda dekarbonisasi sekaligus memperluas bisnis energi rendah karbon. Hingga semester I 2026, program dekarbonisasi Pertamina Group berhasil mencatat pengurangan emisi karbon sebesar 118% dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.
Capaian tersebut menjadi pijakan Pertamina untuk memperbesar pengembangan bisnis rendah karbon di tengah kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat. Perusahaan kini mengembangkan sejumlah portofolio energi baru, mulai dari biofuel, panas bumi, listrik energi bersih, pengolahan sampah menjadi energi, hingga hidrogen hijau.
Senior Vice President Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan mengatakan transisi energi tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan energi nasional. Karena itu, strategi Pertamina diarahkan untuk menjaga pasokan energi sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru dari sektor rendah karbon.
“Kebutuhan energi Indonesia masih terus tumbuh. Karena itu, transisi energi harus dilakukan secara bertahap, sambil memastikan energi tetap tersedia dan peluang bisnis rendah karbon bisa berkembang,” ujar Wenny dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, Pertamina akan memilih teknologi berdasarkan kebutuhan dan karakteristik masing-masing kegiatan. Sejumlah teknologi yang menjadi bagian dari strategi tersebut mencakup tenaga surya, penyimpanan energi menggunakan baterai, serta carbon capture and storage (CCS).
Pertamina juga menggenjot efisiensi pada kegiatan operasional melalui penghematan energi, optimalisasi penggunaan bahan bakar, dan penerapan teknologi energi bersih. Selain menekan emisi karbon, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan bisnis perusahaan.
Wenny menegaskan bahwa pengembangan energi rendah karbon harus memiliki dasar ekonomi yang kuat agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Dengan demikian, investasi hijau tidak berhenti sebagai proyek teknologi, tetapi dapat menjadi bisnis yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
“Kami ingin inisiatif rendah karbon tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi. Proyeknya juga harus layak secara ekonomi dan dapat dijalankan secara komersial,” kata Wenny.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan ekspansi bisnis rendah karbon merupakan bagian dari strategi Pertamina dalam menyiapkan lanskap energi masa depan. Di saat yang sama, perusahaan tetap menjalankan mandat untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat saat ini.
“Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina terus memenuhi kebutuhan energi hari ini, sekaligus menyiapkan pilihan energi untuk masa depan. Kami berharap pengembangan bisnis rendah karbon dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan memberi manfaat yang lebih luas bagi Indonesia,” ujar Baron.
Capaian pengurangan emisi sebesar 118% dari target 2026 tersebut sekaligus memperkuat implementasi agenda ESG Pertamina. Perusahaan menempatkan program dekarbonisasi sebagai bagian dari upaya mendukung target pemerintah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060.
“Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060,” pungkas Baron.




