Selasa, September 29, 2026

Family Office Asia Pasifik Makin Agresif, 26% Kantongi Return di Atas 15%

Must Read

Family office di Asia Pasifik semakin agresif mengelola kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Laporan Global Family Office Report 2026 yang dirilis Citi Wealth menunjukkan investor keluarga di kawasan ini tidak hanya memburu imbal hasil tinggi, tetapi juga memperkuat manajemen risiko, investasi langsung, hingga eksposur terhadap kecerdasan buatan (AI).

Laporan yang disusun Global Family Office Group dari Citi Wealth tersebut berdasarkan survei terhadap lebih dari 350 family office di lebih dari 40 negara pada Juni-Juli 2026. Sekitar 22% responden berasal dari kawasan Asia Pasifik. Secara keseluruhan, Citi Wealth bekerja dengan lebih dari 1.900 family office di seluruh dunia.

Di Asia Pasifik, sebanyak 26% family office melaporkan imbal hasil portofolio di atas 15% secara tahunan. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan kawasan lain. Bahkan, sebanyak 22% family office di kawasan tersebut menargetkan imbal hasil tahunan lebih dari 15%, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata global.

Citi Wealth menilai tingginya kinerja tersebut antara lain mendapat dukungan dari penguatan pasar ekuitas publik di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225, misalnya, tercatat naik sekitar 30% hingga pertengahan Juni 2026.

“Family office secara global menyeimbangkan keyakinan dengan ketahanan, peluang dengan disiplin, dan pertumbuhan dengan pengelolaan yang baik,” kata Dawn Nordberg, Head of Integrated Client Solutions and the Global Family Office Group, Citi Wealth.

Menurut dia, family office kini semakin berperan layaknya investor institusional dalam mengalokasikan modal, membangun kapabilitas investasi dan menjaga kesinambungan kekayaan lintas generasi.

Di tengah volatilitas pasar, family office Asia Pasifik juga menunjukkan pendekatan yang lebih aktif. Sebanyak 62% responden di kawasan ini menggunakan manajemen aktif, sedangkan 49% menerapkan strategi lindung nilai. Kedua angka tersebut berada di atas rata-rata global.

Tren tersebut menunjukkan bahwa manajemen risiko mulai bergeser dari sekadar strategi defensif menjadi instrumen untuk melakukan penyesuaian portofolio secara taktis. Family office tidak melakukan perubahan portofolio secara besar-besaran, tetapi memilih melakukan penyesuaian yang lebih terukur untuk menjaga ketahanan sekaligus mempertahankan peluang pertumbuhan.

Dari sisi investasi langsung, Asia Pasifik juga menjadi kawasan dengan tingkat partisipasi tertinggi. Sebanyak 79% family office di kawasan tersebut melakukan investasi langsung. Menariknya, 77% menjadikan tim internal sebagai sumber utama peluang investasi langsung.

Kondisi ini mengindikasikan semakin kuatnya kemampuan internal family office dalam melakukan pencarian, analisis, hingga eksekusi investasi. Dengan kata lain, family office di kawasan Asia Pasifik mulai membangun struktur investasi yang semakin menyerupai institusi keuangan profesional.

AI menjadi salah satu sektor yang paling mencuri perhatian. Sebanyak 80% family office Asia Pasifik menyebut AI sebagai fokus sektor utama dalam investasi langsung. Minat tersebut juga meluas ke sektor kesehatan, robotika dan perangkat lunak.

“Temuan survei 2026 menunjukkan lansekap family office yang semakin matang di Asia Pasifik, yang ditandai oleh pemikiran kewirausahaan, praktik investasi berkualitas institusional, dan selera yang kuat untuk konektivitas global,” kata Bernard Wai, Head of Asia for Integrated Client Solutions and Global Family Office, Citi Wealth.

Wai mengatakan family office di Asia Pasifik telah berkembang menjadi semakin canggih, dengan kebutuhan terhadap talenta, struktur dan tata kelola yang semakin menyerupai pola pikir dana kekayaan negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF).

“Baik itu berekspansi ke program investasi langsung, memanfaatkan antarmuka AI, atau melaksanakan transaksi lintas batas yang sadar pajak, family office di kawasan ini mengambil pendekatan yang lebih holistik terhadap pengelolaan kekayaan,” ujarnya.

Di sisi lain, agresivitas investasi tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap risiko. Stabilitas sistem keuangan global menjadi kekhawatiran bagi 53% family office Asia Pasifik, sementara 52% mengkhawatirkan volatilitas pasar.

Secara global, hampir 90% responden masih mencatatkan kinerja portofolio positif secara year-to-date. Namun, mayoritas tidak mengejar target yang terlalu ekstrem. Sebanyak 41% family office global menargetkan imbal hasil tahunan 7%-10%.

Pasar saham publik juga kembali menjadi tujuan utama penempatan modal baru. Hampir separuh responden meningkatkan eksposur terhadap ekuitas publik sepanjang tahun ini. Ekuitas negara maju menjadi kelas aset yang paling banyak dipilih untuk alokasi bersih ke depan.

Meski demikian, pasar privat tetap menjadi bagian penting dari strategi investasi. Ekuitas swasta, investasi langsung dan perusahaan tahap pertumbuhan masih menarik minat, meski family office kini semakin selektif dalam memilih peluang.

Perubahan strategi juga terlihat dari pemanfaatan AI. Teknologi tersebut mulai bergeser dari tahap eksperimen menuju implementasi dalam analisis investasi, pengelolaan informasi, pelaporan, otomatisasi alur kerja dan proses pengambilan keputusan.

Citi Wealth mencatat family office lebih banyak menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, bukan semata-mata untuk mengejar alpha. Pemrosesan informasi yang lebih cepat dan peningkatan kemampuan due diligence menjadi manfaat utama yang dicari, sementara keputusan investasi tetap berada di tangan manusia.

Kompleksitas pengelolaan kekayaan juga meningkat seiring semakin globalnya keluarga pemilik kekayaan. Sebanyak 38% responden memperkirakan globalisasi keluarga mereka akan meningkat dalam lima tahun mendatang. Kondisi ini membuat pengelolaan pajak, struktur aset, kepatuhan regulasi dan transaksi lintas batas menjadi semakin kompleks.

Pada saat yang sama, isu suksesi mulai menjadi agenda yang semakin mendesak. Sekitar sepertiga responden memperkirakan akan terjadi transisi kepemimpinan dalam keluarga, family office atau bisnis keluarga dalam lima tahun ke depan. Namun, sejumlah responden masih menghadapi persoalan berupa rencana suksesi yang belum jelas, kesiapan calon pemimpin dan perbedaan visi mengenai masa depan.

“Seiring dunia di sekitar kita menjadi lebih kompleks, family office ada pada posisi yang unik untuk membangun portofolio yang tangguh, menata kembali operasi mereka, dan melakukan profesionalisasi dengan cara yang memungkinkan keluarga mereka mencapai tujuan ambisius,” kata Alexandre Monnier, Head of Family Office Advisory, Citi Wealth.

Dengan perkembangan tersebut, family office di Asia Pasifik tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pengelola kekayaan keluarga. Peran mereka bergerak menuju organisasi investasi yang semakin profesional, aktif mengelola risiko, memburu peluang investasi langsung dan memanfaatkan teknologi untuk mempertahankan pertumbuhan kekayaan lintas generasi.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Tekan Biaya Energi, Menara Astra Terapkan Teknologi AI pada Sistem HVAC

Menara Astra mulai mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengerek efisiensi operasional gedung melalui optimalisasi sistem Heating, Ventilation, and Air...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img