Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mendorong optimalisasi peran Special Mission Vehicle (SMV) untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. Salah satu fokusnya diwujudkan melalui pengembangan komoditas kemiri di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diarahkan untuk memperkuat rantai pasok hingga menembus pasar ekspor.
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi SMV Kementerian Keuangan 2026 bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor”, yang diluncurkan di Mataram, Kamis (24/9/2026).
Program ini mencakup 40 desa dan 350 petani binaan dengan luas lahan sekitar 7.836 hektare serta produksi sekitar 120 ton kemiri per tahun. Intervensi tidak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga mencakup penanaman bibit, penguatan kapasitas petani, pembangunan sentra produksi, modernisasi pengolahan pascapanen, pemanfaatan energi surya, hingga pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.
Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara mengatakan, pengembangan potensi ekonomi daerah menjadi salah satu bagian penting dalam memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah pusat, kata dia, berperan sebagai enabler agar potensi ekonomi daerah dapat berkembang lebih cepat.
“Saya senang melihat semangat sinergi yang sangat kuat di NTB. Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan NTB, yaitu ‘Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’,” kata Suahasil dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Menteri Keuangan, Dwi Teguh Wibowo.
Menurutnya, peran SMV tidak berhenti pada pelaksanaan program, tetapi juga membangun fondasi agar pengembangan ekonomi dapat dilanjutkan oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha.
“SMV hadir untuk menginisiasi, memperkuat kapasitas, membangun ekosistem, dan membuka akses. Setelah modelnya terbentuk dan kegiatan ekonominya berjalan, Pemerintah Daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat melanjutkan dan memperbesar skalanya,” ujarnya.
Dalam program tersebut, delapan SMV Kementerian Keuangan mengambil peran berdasarkan mandat dan kompetensinya masing-masing. LPEI/Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pascapanen dan penyediaan peralatan penunjang produk kemiri, sedangkan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) memperkuat kapasitas petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima.
Sementara itu, PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penanaman bibit kemiri, PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) mendukung pembangunan sentra produksi, PT Geo Dipa Energi (PT GDE) memasang panel surya, dan PT Karabha Digdaya mendukung pengelolaan pascapanen. Adapun Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha diarahkan untuk mengembangkan produk turunan berupa briket dan minyak kemiri.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai tambah kemiri sekaligus memperbesar dampak ekonomi bagi masyarakat daerah.
“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir dan mampu menjangkau pasar global,” ujar Iqbal.
Ia menambahkan, pengembangan rantai nilai kemiri diharapkan berdampak langsung terhadap produktivitas dan pendapatan petani serta mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi di daerah.
Dari sisi ekspor, Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan, kemiri NTB memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah. Tantangannya adalah menghubungkan produksi petani dengan standar kualitas, kapasitas pengolahan, serta kebutuhan pasar internasional.
“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global,” kata Sukatmo.
Melalui sinergi tersebut, LPEI menargetkan terbentuknya rantai nilai kemiri yang lebih kuat sehingga manfaat perdagangan internasional tidak hanya tercermin dalam peningkatan transaksi ekspor, tetapi juga dirasakan oleh petani dan masyarakat.
Berdasarkan kajian dan asesmen lapangan Yayasan Insan Bumi Mandiri, program tersebut ditargetkan meningkatkan jumlah petani yang terlibat di Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi 550–720 orang. Produksi kemiri juga ditargetkan meningkat secara bertahap menjadi 2.400–3.600 ton per tahun.
Dari sisi ekonomi, pendapatan petani ditargetkan meningkat 20–25 persen dengan efisiensi produksi mencapai 60–70 persen. Program tersebut juga diproyeksikan membuka akses ke 3–6 negara tujuan ekspor baru serta meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp30 miliar–Rp40 miliar per tahun.
Peluang pasar global menjadi salah satu alasan pengembangan kemiri NTB diarahkan tidak sekadar meningkatkan volume produksi. Kajian IEB Institute mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai US$9,58 juta pada Januari–September 2025. Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai eksportir kemiri terbesar ke-13 dunia dengan pangsa sekitar 0,5 persen dari ekspor global.
Saat ini, Bangladesh dan Malaysia menjadi dua pasar utama dengan pangsa gabungan sekitar 64 persen. Namun, masih terdapat peluang ekspansi ke sejumlah negara yang dinilai memiliki potensi tetapi belum tergarap secara optimal, antara lain Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Jerman, dan Belanda.
Karena itu, pengembangan kemiri NTB diarahkan pada peningkatan kualitas, konsistensi pasokan, modernisasi pengolahan, dan penguatan akses pasar. Produk kemiri juga didorong tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti kemiri kupas, kemiri sangrai, kemiri bubuk, pasta bumbu, dan minyak kemiri.
Dalam rangkaian peluncuran tersebut, LPEI juga menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkuat daya saing ekspor daerah. Kerja sama mencakup pengembangan kapasitas UKM, koperasi, dan BUM Desa yang berorientasi ekspor.
Selain itu, dilakukan pelepasan ekspor komoditas unggulan NTB berupa kemiri tujuan Jepang dengan potensi pasar Singapura serta vanilla tujuan Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton dengan nilai Rp3,8 miliar. Kegiatan juga dirangkai dengan showcase produk unggulan dari 16 pelaku usaha binaan SMV di NTB.




