Moneter.id
–
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, pada periode
Februari 2021, BPS mencatat terjadinya inflasi sebesar 0,10 persen. Salah penyebabnya karena
“Inflasi ini jauh lebih lambat dari Januari 2021
0,26 persen dan lebih lambat Februari 2020 sebesar 0,28 persen,” katanya
di Jakarta, Senin (1/3).
Dengan inflasi ini, maka inflasi tahun kalender
Januari-Februari 2021 tercatat sebesar 0,36 persen dan inflasi tahun ke tahun
(yoy) 1,38 persen. “Cabai rawit dan ikan segar sama-sama menyumbang
andil inflasi 0,02 persen pada Februari 2021,” ujarnya.
Suhariyanto mengatakan kenaikan harga cabai rawit
terjadi di 65 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan kenaikan harga tertinggi
di Pangkalpinang 39 persen dan Merauke 38 persen.
Sedangkan, tambah dia, kenaikan harga serupa juga
terjadi untuk komoditas ikan segar karena cuaca yang buruk di beberapa wilayah
menyebabkan nelayan tidak melaut dan pasokan menjadi terbatas.
Komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi pada
periode ini adalah kenaikan tarif jalan tol yang menyumbang andil 0,02 persen
dan tarif angkutan udara dengan andil 0,01 persen.
“Tarif jalan tol mengalami kenaikan mulai 17
Januari 2021 di beberapa ruas jalan tol seperti di Surabaya dan Bekasi dan
menyumbang inflasi di 56 kota IHK,” kata Suhariyanto.
Sementara itu komoditas yang menjadi komponen penahan
inflasi adalah daging ayam ras dan telur ayam ras yang masing-masing menyumbang
andil deflasi 0,02 persen serta tomat dan cabai merah yang sama-sama menyumbang
andil 0,01 persen.
“Komoditas lain yang mengalami deflasi adalah
harga emas yang mengalami penurunan dan menyumbang andil 0,02 persen, karena
harga emas batangan dan logam mulia turun dan berpengaruh ke harga emas
perhiasan dibandingkan Januari di 78 kota IHK,” ujarnya.
Ia juga memaparkan, selama
Februari 2021 sebanyak 56 kota mengalami inflasi dan 34 kota mengalami deflasi
dari keseluruhan 90 kota IHK.
Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju 1,12 persen, dan
inflasi terendah masing-masing terjadi di Tasikmalaya dan Sumenep sebesar 0,02
persen.
Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli
sebesar 1,55 persen dan deflasi terendah masing-masing terjadi di Malang dan
Tarakan 0,01 persen.
“Inflasi tertinggi pada Februari terjadi di
Mamuju, atau sama seperti di Januari, karena Mamuju belum pulih usai adanya
musibah. Tapi inflasi Februari ini menurun karena adanya penurunan harga ikan
segar,” kata Suhariyanto.




