Moneter.co.id – Gubernur Bank
Indonesia (BI) yang baru, Perry Warjiyo menyatakan siap menjalan peran Bank
Sentral untuk melakukan stabilisasi keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini didorong dengan kebijakannya yang pro
stability dan pro growth.
“Dalam program kerja jangka
pendeknya akan diprioritaskan stabilisasi nilai tukar Rupiah,” ujar Perry di Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis
(24/5).
Langkah moneter
yang akan digunakan untuk mengerek Rupiah yakni dengan mengkombinasi kebijakan
suku bunga acuan dan terus melakukan intervensi baik di pasar valuta asing
maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Hingga pertengahan tahun ini
BI telah intervensi pasar SBN dengan membeli hampir Rp50 triliun portofolio
yang dijual oleh asing. Bahkan untuk bulan Mei saja, BI sudah membeli sekitar
Rp13 triliun surat berharga di pasar sekunder.
“Ini akan kami terus
lakukan untuk bisa segera stabilkan kurs. Tentunya dengan berkoordinasi bersama
Menteri Keuangan agar yield (imbal hasil) governent bond tetap menarik bagi
investor asing tapi terlalu berfluktuasi,” jelasnya.
Penguatan Rupiah ini,
lanjutnya, tentu membutuhkan peran dukungan dari perbankan maupun dunia usaha.
Sehingga pihaknya akan duduk bersama mereka untuk menyelaraskan persepsi
mengenai kurs Rupiah.
“Tekanan
nilai tukar Rupiah ini sebagian karena eksternal dan sebagian lain masalah
persepsi, tentu saja butuh lebih banyak koordinasi dan pertemuan untuk samakan
persepsi,” imbuhnya.
Sedangkan untuk
jangka panjang, Perry menyatakan selain menggunakan instrumen moneter untuk pro stability, pihaknya akan mendorong
empat istrumen pro growth yakni
relaksasi makroprudensial secara khusus di sektor perumahan.
Kemudian mempercepat
pendalaman pasar keuangan khususnya untuk pembiayaan infrastruktur, lalu dengan
kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung strategi nasional ekonomi dan
keuangan digital. “Baik dari
Gerbag Pembayaran Nasional, elektronifikasi, bantuan sosial nontunai, maupun
pengembangan fintech ,” sebutnya.
Terakhir, memperkuat
akselerasi keuangan ekonomi dan syariah dengan mendorong baik industri halal,
pengembangan sektor syariah, maupun pengembangan riset, edukasi dan kampanye
gaya hidup halal. “Kami BI akan
prioritaskan mandat pro stability
tapi tetap mencari celah mendukung pro
growth,” tutup Perry.
(HAP)




