Moneter.co.id – Awal tahun
2018, Pemerintah Arab Saudi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) seperti
dilaporkan kantor berita SPA.
Kebijakan
kenaikan harga BBM itu diyakini bertujuan untuk mendorong penggunaan energi
yang lebih efisien, dimana hal ini bertepatan dengan rencana ambisius reformasi
dalam upaya meningkatkan sumber pendapatan negara.
Dilansir Reuters,
Senin (01/01) hal ini juga karena pembatasan produksi oleh eksportir papan atas
minyak dunia tersebut. Disebutkan harga bensin oktan 91 dijual seharga 1,37
riyals per liter naik hampir seratus persen dari sebelumnya 0,75 riyals.
Sementara bahan bakar dengan kadar Oktan 95 meningkat menjadi 2,04 riyals per
liter dibandingkan harga awal 0,90 riyals.
Di sisi lain bahan bakar diesel untuk truk tidak berubah.
Namun seperti dilansir Saudigazette,
harga diesel untuk industri menjadi 0,378 riyals per liter atau meningkat dari
sebelumnya. Pihak kerajaan disampaikan berencana memperlambat hingga akhirnya
menghilangkan subsidi untuk berbagai macam produk-produk energi, sesuai dengan
rencana fiskal jangka panjang dalam APBN 2018, yang dirilis bulan lalu.
Secara resmi Raja Salman mengumumkan pada 20 Desember lalu,
bahwa target untuk menghilangkan defisit anggaran pemerintah akan mendorong
kembali di 2023 dari sasaran semula 2020.
Hal itu
menurutnya untuk mengurangi tekanan kepada pertumbuhan ekonomi Arab Saudi.
Kerajaan menerangkan agenda reformasi tahun 2016 bertujuan untuk meningkatkan
level dan kualitas pelayanan yang diberikan oleh pemerintah.
Ditambahkan selain itu guna mencapai pertumbuhan di masa
depan yang berkelanjutan dan sejahtera. Pihak berwenang seperti dikutip
Saudigazette bakal terus memantau pasar minyak dunia untuk terus memperbaharui
harga dan menegaskan tidak menganggu pasokan.
Saudi Aramco
sendiri juga akan memberikan informasi rinci tentang mekanisme untuk menerapkan
harga ini.
(TOP/Snd)




