Moneter.id – Sekretaris Direktorat Jenderal Industri
Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Agus Tavip Riyadi menyebutkan, Yogyakarta
memiliki sektor IKM yang variatif, antara lain industri logam mulia, kimia, hasil
pertanian dan kehutanan, fesyen, kuliner, serta kerajinan. Daya saing IKM
Yogyakarta dinilai mampu kompetitif baik di kancah domestik maupun global,
sehingga menjadi barometer perkembangan ekonomi kreatif di Pulau Jawa.
“Secara umum, industri yang terdapat di
Yogyakarta adalah industri kecil. Pada kenyataannya, hasil industri di wilayah
Yogyakarta, utamanya produk kriya (kerajinan), fesyen dan kuliner telah banyak
diminati konsumen luar negeri,” ucap
Agus pada pembukaan Pameran
Kerajinan Jogja Istimewa 2020 di Plasa Industri, Jakarta, Selasa (10/3/2020).
Hingga kini, katanya, Yogyakarta memiliki lebih dari 78 ribu unit
usaha sektor IKM, yang sebagiannya punya potensi dobrak pintu ekspor.
Pameran yang berlangsung
selama empat hari, pada tanggal 10-13 Maret 2020, diikuti sebanyak 55 IKM. Mereka
berasal dari Kota Yogyakarta (12 IKM), Kabupaten Bantul (15 IKM), Kab. Sleman (17
IKM), Kab. Gunungkidul (5 IKM), dan Kab. Kulonprogo (6 IKM).
Sementara, Sekretaris
Daerah D.I. Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji menyampaikan, industri kerajinan
menjadi salah satu pendukung utama bagi perekonomian daerah.
“Sektor andalan kita memang ekonomi kreatif,
yang di antaranya disumbangkan cukup besar oleh industri kerajinan,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan
D.I. Yogyakarta, Aris Riyanta mengemukakan, pelaku IKM yang dibawa pada pameran
kali ini sudah menghasilkan berbagai produk premium atau berkualitas, yang
sebagian telah menembus pasar ekspor.
“Produk industri Yogyakarta yang punya orientasi
ekspor, antara lain furnitur dan produk kulit,” ucap Aris.
Berdasarkan data
Dinas Perindag Kota Yogyakarta menunjukkan, nilai ekspor D.I. Yogyakarta
sepanjang tahun 2018 mencapai USD338,02 juta atau naik 13,96 persen dibanding
tahun sebelumnya sebesar USD296,61 juta.
Komoditas yang berandil besar dalam
meningkatkan nilai ekspor DIY tersebut, di antaranya pakaian jadi tekstil,
mebel kayu, sarung tangan kulit, biji vanila dan minyak atsiri.




