Moneter.id
– Ekonom
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani
mengungkapkan terjadi perubahan perilaku konsumen secara signifikan yang lebih
mengutamakan kebutuhan primer, ditambah upaya menjaga serta merawat kesehatan
pada masa normal baru.
“Selama pandemi COVID-19 terdapat perubahan
perilaku masyarakat yang menarik, karena mereka membutuhkan sabun cuci tangan
dan masker. Pengeluaran itu jadi berubah dari yang awalnya untuk kebutuhan
sekunder menjadi kebutuhan primer, terutama kesehatan,” kata Aviliani di
Jakarta, Selasa (9/6/2020).
Katanya, sebelum pandemi Covid-19 masyarakat
mengutamakan kebutuhan pangan dan pariwisata atau jalan-jalan, di mana
pengeluaran masyarakat untuk jalan-jalan atau pariwisata menduduki peringkat
kedua. Namun ketika COVID-19 melanda justru sektor yang terkena duluan adalah
sektor pariwisata.
“Otomatis kebutuhan sekunder ini akan lama untuk
bisa kembali pulih di era normal baru saat ini. Kenapa? Walaupun mal-mal sudah
dibuka di era normal baru, masyarakat masih tetap takut,” ujar Aviliani.
Selain itu selama dua bulan terakhir, daya beli
masyarakat cukup turun signifikan. Artinya orang-orang yang bekerja dari rumah
atau WFH tidak mendapatkan uang makan, uang lembur, dan sebagainya sehingga
penghasilan mereka turun 50 persen.
Di samping, kata dia, mereka harus memenuhi kebutuhan
pokok. Sebagian pekerja juga sudah menggunakan dana tabungannya.
“Sedangkan untuk masyarakat menengah ke bawah
yang biasanya masih bisa menghidupi diri sendiri, sudah harus menerima bantuan
langsung tunai atau bantuan sosial,” ujar Aviliani.
Oleh karena itu, menurut dia, penyaluran dana bantuan
sosial ini harus cepat agar daya beli tidak semakin menurun.




