Moneter.co.id – Kementerian Perindustrian terus mendorong Unit Pelayanan Teknis (UPT) baik
Balai Besar maupun Balai
Riset dan Standardisasi agar semakin giat melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang).
Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri
nasional.
“Salah satu UPT yang sedang
mengembangkan inovasi, yaitu Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung,
dengan memanfaatkan protein perekat dari ulat sutra atau serisin yang
ternyata berguna sebagai bahan aktif untuk mendukung sektor industri farmasi
dan kosmetik,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri
(BPPI) Ngakan Timur Antara di Jakarta, Senin (12/3).
Ngakan menjelaskan, serisin erat
kaitannya dengan proses produksi sutra. Di bidang farmasi, serisin dapat
diaplikasikan sebagai penyembuhan luka, pencegah tumor melalui
penghambatan radiasi sinar ultraviolet, serta memiliki antioksidan
dan antibakteri. “Sementara itu, di
bidang kosmetik, serisin bisa dipakai sebagai anti kerut
dan penuaan dini,” ungkapnya.
Bahkan, penggunaan serisin pada kulit dapat menurunkan nilai
transepidermal water loss (TEWL).
TEWL adalah salah satu penyebab kulit kering. “Nilai TEWL menyebabkan kadar air
kulit terjaga karena tidak terjadi kehilangan air pada lapisan kulit terluar
sehingga tekstur
kulit menjadi lebih halus. Hal ini menyebabkan kulit lebih elastis dan tidak
mudah berkerut,” papar Ngakan.
Menurutnya, serisin tidak hanya
didapatkan dari kokon (kepompong ulat sutra) berkualitas baik saja,
namun juga dari kokon cacat. Jumlah kokon cacat yang dihasilkan bisa mencapai
8,78% dari total produksi kokon. Rata-rata produksi petani kokon di
Indonesia sebesar 40 kg kokon per masa panen.
“Jadi, yang tengah didorong BBT Bandung
selaku UPT litbang di bawah BPPI, adalah peningkatan nilai tambah kokon
menjadi serisin, sehingga dapat pula menyejahterakan petani kokon di
Indonesia,” tuturnya.
Dari hasil
penelitian, kokon ulat
sutra mengandung 20–30% serisin. “Jika saja petani kokon Indonesia mampu
mengekstraksi 10% serisin grade murni
dari bobot total kokon, maka potensi penambahan income kotor petani kokon sebesar Rp60
juta setiap masa panen, dengan asumsi harga
serisin yang ada di pasaran saat ini sebesar Rp15 ribu per gram,” jelas Ngakan.
Besarnya potensi tersebut diharapkan dapat menggairahkan
kembali kegiatan produksi persuteraan nasional. Berdasarkan data yang diterima
Kemenperin, hingga saat ini, tercatat ada 200-an petani kokon di Tanah Air.
Sebagian besar terkonsentrasi
di Kabupaten Soppeng dan Wajo, Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Temanggung,
Jawa Tengah.
Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Perindustrian
Airlangga Hartarto mengatakan, industri
farmasi nasional terus berupaya membangun struktur yang dalam dan terintegrasi
agar mampu menghasilkan produk-produk dengan inovasi baru dan bernilai tambah
tinggi. Guna menciptakan tujuan tersebut, antara lain diperlukan ketersediaan
bahan baku dan penguasaan teknologi sehingga dapat memenuhi kebutuhan untuk
pasar domestik dan ekspor.
“Industri farmasi dan bahan farmasi
merupakan salah satu sektor andalan yang diprioritaskan dalam
pengembangannya, karena berperan besar sebagai
penggerak utama perekonomian nasional di masa
yang akan datang,” tegasnya.
Kemenperin
mencatat, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar
6,85% dan memberikan kontribusi sebesar 0,48% pada tahun 2017. Demikian juga dengan nilai investasi yang meningkat sebesar 35,65%. Pada tahun 2017, penambahan investasi di sektor ini
mencapai Rp5,8 triliun.
Menperin
menyebutkan, industri farmasi menjadi salah satu subsektor yang diharapkan
berkontribusi signifikan untuk mencapai target pertumbuhan industri pengolahan
nonmigas tahun 2018 yang telah ditetapkan sebesar 5,67%. “Industri farmasi sudah mampu menyediakan 70% dari kebutuhan obat dalam negeri,” ungkapnya.
(HAP)




