Moneter.id – Kementerian Perindustrian mencatat sepanjang tahun 2019, industri
manufaktur mampu memberikan kontribusi cukup signfikan terhadap capaian nilai investasi
nasional. Ini terlihat dari sumbangsih penanaman modal dalam negeri (PMDN)
sektor industri sebesar Rp72,7 triliun atau 18,8% dari perolehan total PMDN yang
berada di angka Rp386,5 triliun.
Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) di
sektor industri menyentuh Rp143,3 triliun atau 33,8% dari perolehan total PMA
yang mencapai Rp423,1 triliun. Jadi, secara keseluruhan, sektor industri menggelontorkan
dana hingga Rp216 triliun atau berkontribusi 26,7% dari total realisasi investasi
di Indonesia senilai Rp809,6 triliun pada tahun lalu.
Kelima
sektor manufaktur yang menyumbang nilai investasi paling besar pada tahun 2019,
yaitu industri logam dasar dengan capaian Rp58,3 triliun, kemudian diikuti
industri makanan dan minuman Rp54 triliun, industri bahan kimia dan barang dari
bahan kimia Rp23,5 triliun, industri barang galian bukan logam Rp10,7 triliun,
serta industri kertas dan barang dari kertas Rp8,9 triliun.
“Pembangunan
sektor industri khususnya manufaktur merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah
negara,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta,
Senin (3/2).
Menperin Agus menjelaskan, sesuai arahan
Presiden Jokowi, setiap rupiah yang dikeluarkan, baik itu melalui investasi
maupun sumber lain, tujuannya adalah untuk menciptakan lapangan kerja.
“Jadi, yang perlu dilakukan saat ini adalah
membawa investasi sebesar-besarnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, setiap kebijakan strategis pemerintah
terutama yang berkaitan dengan upaya memacu pertumbuhan ekonomi, harus berimbas
pada penciptaan iklim usaha yang kondusif. Langkah ini diyakini dapat meningkatkan
kepercayaan para investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
“Apalagi, Indonesia masih menjadi negara
tujuan utama bagi para investor. Hal ini merupakan hasil dari pertemuan kami
dengan perusahaan-perusahaan skala global. Selain itu, respons mereka sangat
positif terhadap komitmen Pemerintah Indonesia dan kebijakannya yang ramah kepada
investor,” papar Agus.
Menperin menegaskan, pihaknya bertekad untuk mengatrol
nilai investasi nasional, dengan turut aktif mengajak dan mengawal sejumlah pelaku
industri potensial agar segera merealisasikan investasinya di Indonesia.
Hal ini diyakini
akan
dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi, menurunkan defisit
transaksi berjalan, memperkuat struktur industri manufaktur dalam negeri,
mendorong hilirisasi, menghasilkan produk substitusi impor, meningkatkan nilai
ekspor, dan mengurangi angka pengangguran.
“Sesuai implementasi roadmap Making
Indonesia 4.0, kami memprioritaskan pada lima sektor, yaitu industri makanan
dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri
elektronik, serta industri kimia,” sebutnya.




