Kamis, Maret 5, 2026

Ini Empat Strategi Kemenperin Pacu Kinerja Industri Mamin

Must Read

Moneter.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang
memprioritaskan pengembangan industri makanan dan minuman di dalam negeri agar
semakin berdaya saing global dan siap memasuki era revolusi industri 4.0. Hal
ini sesuai dengan inisiatif yang terdapat di peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Industri makanan dan minuman merupakan satu dari lima
sektor manufaktur yang akan menjadi pionir penerapan industri 4.0 di Indonesia.
Sebab, sektor ini konsisten memberikan kontribusi yang signifikan bagi
perekonomian nasional,” kata Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit
Dwiwahjono di Jakarta, Rabu (3/10).

Sigit menyebutkan, sedikitnya ada empat langkah strategis
yang dijalankan Kemenperin dalam upaya mewujudkan industri makanan dan minuman
nasional yang mampu kompetitif di era digital.

Pertama,
memfasilitasi perangkat cerdas berupa Cyber-Physical
Systems
untuk mengintegrasikan jaringan Internet of Things dengan
lini produksi agar hasilnya menjadi lebih efisien, optimal dan berkualitas,”
ucapnya.

Kedua, kata Sigit, memperbaiki aliran bahan baku untuk
menjaminnya pasokan kepada industri makanan dan minuman. Upaya ini perlu
dilakukan melalui kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

“Contohnya, menerapkan tekonologi cerdas di sektor
pertanian, perkebunan, dan perikanan, seperti melalui sistem pemantauan
otomatis atau drone autopilot,”
ungkapnya.

Ketiga,
mengimplementasikan peta jalan industri 4.0 dengan melibatkan sektor hulu
sampai hilir agar terciptanya keterpaduan untuk meningkatkan daya saing
industri makanan dan minuman nasional.

“Misalnya, menetapkan pilot
project
bagi produsen yang sudah menerapkan industri 4.0,” lanjut Sigit.

Dan keempat,
yakni Kemenperin akan memberikan pelatihan mengenai upaya peningkatan ekspor
serta menggelar pertemuan bisnis dan promosi investasi di sektor industri
makanan dan minuman.

“Tujuannya adalah untuk menarik investor, meningkatkan
kapasitas industri dalam menerapkan industri 4.0, serta memperluas akses ekspor
bagi industri makanan dan minuman,” tuturnya.

Sigit meyakini, apabila keempat jurus tersebut terlaksana
dengan baik, industri makanan dan minuman nasional mampu menjadi pemimpin di
pasar makanan kemasan sederhana hingga medium di tingkat Asean pada tahun 2025.
Bahkan, Indonesia diproyeksi masuk dalam jajaran lima besar negara eksportir
untuk industri makanan dan minuman di tingkat global pada tahun 2030.

“Oleh karenanya, dibutuhkan langkah sinergi antara
pemerintah, pelaku industri dan pihak akademisi karena ke depannya akan
memerlukan banyak kegiatan riset untuk menghasilkan inovasi. Untuk itu, kami
memberikan apresiasi atas terselanggaranya International Conference on Agro
Industry (IcoA),” paparnya.

Sigit menambahkan, bisnis industri makanan dan minuman
masih prospektif di masa depan, seiring dengan meningkatnya tingkat
kesejahteraan masyarakat serta semakin besarnya kebutuhan makanan dan minuman
khususnya produk olahan.

“Pertumbuhan di pasar domestik juga mendukung dalam
perbaikan efisiensi produksi sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih
kompetitif dari sisi harga dan lebih berkualitas sehingga bisa bersaing di
pasar Asean hingga global,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, pada triwulan II/2018, pertumbuhan industri makanan dan
minuman mencapai 8,67% atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,27%.
Bahkan, sektor industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi
tertinggi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas hingga 35,87%.

Selanjutnya,
industri makanan dan minuman juga memberikan kontribusi besar terhadap nilai
investasi sepanjang semester I/2018 dengan menyumbang sebesar 47,50% atau
senilai Rp21,9 triliun untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sedangkan,
untuk penanaman modal asing (PMA), industri makanan menyetor 10,41% (USD586
juta).

Sigit
optimistis, dengan implementasi industri 4.0, mampu meningkatkan
ekspor produk makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali
lipat, dari target tahun ini sebesar USD12,65 miliar akan menjadi
USD50 miliar pada 2025. 

“Industri
4.0 merupakan transformasi dari upaya mengintegrasikan internet dengan
lini produksi di sektor industri yang bertujuan
untuk mendongkrak produktivitas dan inovasi, mengurangi ongkos
produksi, serta meningkatkan ekspor produk domestik,”
pungkasnya.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Stockbit dan Bibit Catatkan Pertumbuhan yang Solid di Pasar Modal Indonesia

Di tengah lanskap startup Indonesia yang semakin kompetitif dan penuh dinamika dewasa ini, tidak banyak perusahaan teknologi finansial Tanah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img