Moneter.id – Seiring dengan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat
dunia terhadap tingkat kesehatan memicu permintaan makanan berbahan baku
organik semakin meningkat. Konsumen di sejumlah negara maju seperti Amerika dan
Inggris mulai beralih membeli produk-produk organik sebagai bentuk kepedulian
mereka terhadap kesehatan pribadi dan anggota keluarganya.
“Para pelaku bisnis beras organik eksportir dan petani
sepakat prospek beras organik sangat bagus. Pemain masih sedikit, sedangkan
konsumsi beras organik terus meningkat,” kata Dewan Pakar Bidang Pangan,
Ekonomi dan Pertanian, Rumah SandiUno Indonesia (RSI) Haris F. Harahap di
Jakarta, Kamis (11/04).
Berdasarkan survei FiBL dan IFOAM- Organiks Internasional
beberapa negara yang menjadi pasar terbesar adalah Amerika Serikat (39 Milyar
Euro), Jerman (9,5 Milyar Euro), Francis (6,7 Milyar Euro), dan China (5,9
Miyar Euro).
“Hasil survei ini juga menyampaikan pasar tumbuh
rata-rata 20 persen pada tahun 2016,” katanya.
Disisi lain, lanjut Haris, pasar makanan organik dalam
negeri juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, berdasarkan data Organik
Trade Association ukuran total pasar untuk makanan dan minuman kemasan organik
di Indonesia pada tahun 2017 adalah US $ 13,5 juta, menjadikannya pasar ke-44
terbesar di dunia berdasarkan nilai.
“Fenomena ini menggambarkan bahwa pengembangan pertanian
organik khususnya beras organik di Indonesia masih sangat besar,” paparnya.
Luas lahan usaha tani beras organik tahun 2015 di
Indonesia berdasarkan Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) tahun 2016
terdiri dari lahan beras organik 1.753,7 ha, lahan beras dan sayuran organik
293,9 ha, dan lahan organik hasil konversi lahan sawah konvensional 5,9 ha.Totaljumlah produsen
adalah 17.468 (termasuk petani kecil dan perusahaan serta prosesor), naik 56%
dari tahun 2014 (11.189).
Di lain sisi, sejak 1990-an, laju peningkatan produksi
padi tidak lagi seimbang dengan laju penggunaan pupuk dengan rasio 1:10. “Hingga
kini, ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik dalam usaha tani padi
sangat tinggi, sehingga penggunaannya seringkali berlebihan,” ucapnya.
Hal ini terkait dengan respon tanaman terhadap penggunaan
pupuk anorganik sangat cepat, nyata, dan didorong oleh adanya kebijakan pupuk
murah melalui subsidi, terutama urea dampaknya saat ini terjadi penurunan
produktivitas lahan sawah.
Haris menjelaskan, masalah penurunan daya dukung lahan
sawah ini berdampak pada tingkat kesejahtraan petani padi nasional. Salah satu
usaha untuk menghambat degradasi daya dukung lahan, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik, dan menghindari pencemaran lingkungan adalah
dengan mengharuskan penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya di lahan
sawah produktif.
“Apabila Prabowo-Sandi
inshaAllah terpilih sebagai presiden dan wakil presiden pada Pemilu mendatang,
RSI akan mendorong pemerintahan untuk membuat program usaha
tani padi atau beras organik melalui program pengembangan model usaha tani padi
organik nasioanal, pengembangan teknologi pembuatan pupuk organik yang efisien
dan efektif, dan kembali menerapkan pupuk organik bersubsidi nasional,”
tungkasnya.
“Melalui pengembangan usaha
tani padi organik dan penggunaan pupuk organik pada lahan-lahan produktif sawah
maka akan terbuka lapangan pekerjaan sektor pertanian, terjadi peningkatan
nilai tambah produk beras dan peningkatan pendapatan petani padi nasional,”
tutup Haris.




