Moneter.id – Kementerian
Perindustrian terus mendorong daya saing industri makanan dan minuman (mamin)
nasional agar lebih kompetitif di pasar global. Langkah strategis ini sesuai
implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 serta upaya pemerintah dalam
menggenjot nilai ekspor nasional dari produk manufaktur.
“Selain
mendorong peningkatan mutu serta pengembangan inovasi dan teknologi terbaru,
kami juga memfasilitasi pelaku industri nasional termasuk produsen mamin untuk
semakin memperluas pangsa pasar dan aksesnya ke rantai suplai dunia sehingga
dapat mendongkrak kinerjanya,” kata Plt. Direktur Jenderal Ketahanan dan
Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ngakan Timur
Antara di Jakarta, Minggu (28/10).
Ngakan
menjelaskan, industri mamin merupakan salah satu sektor andalan karena mampu
memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Maka
itu, sektor ini yang tengah diprioritaskan pengembangannya dalam memasuki era
revolusi industri 4.0 di Indonesia. Apalagi, industri makanan dan minuman
nasional telah berdaya saing global,” jelasnya.
Kemenperin
optimistis, implementasi Making Indonesia 4.0 mampu mengatrol ekspor makanan
dan minuman olahan nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini
sekitar USD12,65 miliar yang akan menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025.
“Apabila
nilai ekspor produk makanan dan minuman, juga dihitung termasuk minyak kelapa
sawit, pada tahun 2017 mencapai USD31,7 miliar,” ungkap Ngakan.
Berdasarkan
catatan Kemenperin, ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Uni Eropa
pada tahun 2017 mencapai USD14 miliar. Sementara periode Januari-Juli 2018,
ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Perancis pada tahun 2017 sebesar
USD 8,21 juta.
(TOP)




