Jumat, Februari 27, 2026

Kepatuhan ESG Dorong Lonjakan Permintaan Gedung Hijau di Jakarta

Must Read

Tren pasar perkantoran di Jakarta saat ini tengah mengalami pergeseran signifikan seiring dengan semakin ketatnya persyaratan Environmental, Social, and Governance (ESG) bagi korporasi.

Perusahaan, khususnya skala multinasional, kini memandang gedung bersertifikasi hijau bukan lagi sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan dasar dalam operasional bisnis mereka.

Fenomena ini diperkirakan akan terus memperkuat posisi keberlanjutan sebagai faktor utama yang membentuk dinamika permintaan ruang kerja di masa depan.

​Head of Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo, menjelaskan bahwa situasi ini akan memacu pemilik properti untuk melakukan peningkatan aset.

“Tren ini diperkirakan akan mempercepat inisiatif peningkatan aset dan reposisi, menegaskan semakin pentingnya keberlanjutan dalam membentuk permintaan perkantoran. Banyak perusahaan kini semakin meninjau kembali bagaimana tempat kerja mendukung karyawan, tujuan organisasi, dan ambisi jangka panjang mereka.” ujar Bagus.

​Selain faktor kepatuhan lingkungan, aspek ekonomi menjadi daya tarik utama gedung hijau. Di tengah kenaikan tarif listrik, menempati gedung yang memiliki efisiensi energi tinggi dapat memberikan penghematan biaya listrik sekitar 20% hingga 40% dibandingkan gedung konvensional.

Keunggulan ini membuat gedung berkinerja tinggi mampu menawarkan kenyamanan termal dan kualitas lingkungan dalam ruang yang lebih sehat bagi para karyawan.

​Terkait efisiensi tersebut, Zyotty Thamsil selaku Senior Manager Energy Efficiency & Environmental Solutions Colliers Indonesia menegaskan bahwa efisiensi energi telah bertransformasi menjadi langkah taktis perusahaan.

“Efisiensi energi bukan lagi pilihan, ini adalah kebutuhan strategis bagi penyewa yang berfokus pada pengendalian biaya dan keberlanjutan.” ujar Zyotty Thamsil.

​Bagi perusahaan yang belum berhasil mendapatkan ruang di gedung bersertifikasi hijau, langkah alternatif dapat dilakukan melalui penerapan desain interior atau fit-out yang berorientasi pada keberlanjutan.

Rahmat Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia, menekankan bahwa optimalisasi ruang kerja tetap dapat dilakukan pada gedung non-sertifikasi. “Organisasi yang mengoptimalkan ruang kerjanya melalui desain hijau dan fit-out yang efisien berada pada posisi tidak hanya untuk menurunkan biaya, tetapi juga memperkuat kredensial ESG mereka.” kata Rahmat.

​Saat ini, pemilik gedung juga mulai lebih fleksibel dalam negosiasi sewa dengan menawarkan berbagai insentif fit-out untuk menarik minat penyewa di tengah persaingan pasar yang ketat.

Rahmat Alam menambahkan bahwa hal ini sangat membantu sisi finansial perusahaan, di mana dengan opsi pembiayaan fit-out yang fleksibel, perusahaan dapat mengelola pengeluaran secara lebih efektif sekaligus menempati ruang kerja baru lebih cepat.

​Pada akhirnya, keberhasilan transisi menuju ruang kerja berkelanjutan sangat bergantung pada pendekatan strategis yang berbasis data. Colliers merekomendasikan agar setiap bisnis mengevaluasi pola kerja dan tingkat utilisasi ruang secara mendalam.

Dengan menyelaraskan keputusan pada metrik ESG yang terukur, perusahaan diharapkan dapat menciptakan ekosistem kerja yang tangguh, mendukung kesejahteraan talenta, serta menjaga pertumbuhan bisnis jangka panjang.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Motorola Resmi Luncurkan razr 60 di Indonesia: Era Baru Ponsel Lipat Pintar Berbasis AI

Motorola kembali menggebrak pasar ponsel premium tanah air dengan mengumumkan kehadiran motorola razr 60 di Jakarta pada Rabu, 25...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img