Jumat, Oktober 16, 2026

Krisis Lapangan Kerja, Ekonom Dorong Penguatan Ekonomi Daerah dan Industri Padat Karya

Must Read

Keterbatasan lapangan kerja di Indonesia dinilai tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya jumlah pencari kerja, tetapi juga kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja. Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., mendorong penguatan ekonomi daerah dan pengembangan industri padat karya untuk memperluas kesempatan kerja di tengah perkembangan otomatisasi dan perlambatan industrialisasi.

Agus menjelaskan, pasar kerja Indonesia menghadapi tekanan dari jutaan lulusan baru yang memasuki dunia kerja setiap tahun. Pada saat bersamaan, pencari kerja dari periode sebelumnya, korban pemutusan hubungan kerja (PHK), serta masyarakat yang ingin berpindah pekerjaan juga membutuhkan kesempatan kerja. Kondisi tersebut membuat persaingan semakin ketat, sementara pertumbuhan industri belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertambahan tenaga kerja.

Menurut Agus, persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan meningkatkan jumlah lulusan berpendidikan tinggi. Pertumbuhan kesempatan kerja perlu menjadi perhatian utama karena lulusan perguruan tinggi juga harus bersaing dengan lulusan sekolah menengah untuk memperoleh pekerjaan yang tersedia.

Salah satu faktor yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja adalah otomatisasi. Penggunaan teknologi memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi pada saat yang sama mengurangi kebutuhan tenaga manusia untuk sejumlah pekerjaan.

Agus mencontohkan perubahan pada layanan pelanggan dan sektor perbankan. Aktivitas yang sebelumnya mengandalkan interaksi langsung dengan pekerja kini semakin banyak dialihkan ke mesin dan layanan digital.

“Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin,” ujar Agus, Kamis (15/10).

Selain otomatisasi, perlambatan industrialisasi turut membatasi kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja. Agus menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama untuk menampung pertumbuhan angkatan kerja setiap tahun.

Ia mencontohkan industri tekstil yang menghadapi persaingan dengan produk impor. Sementara itu, industri rokok juga menghadapi tantangan seiring kampanye pengendalian konsumsi, meskipun sektor tersebut turut menyediakan lapangan kerja bagi banyak orang.

“Jadi industri-industri yang menyerap kerja yang cukup besar ini, tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar,” jelasnya.

Menurut Agus, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya mendorong pertumbuhan sektor industri yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan ruang bagi penyerapan tenaga kerja secara luas.

Agus juga menyoroti karakter investasi asing yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, investasi yang berorientasi pada modal besar atau capital-intensive tidak selalu diikuti penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Proyek investasi berskala besar memang dapat membutuhkan banyak pekerja selama tahap pembangunan. Namun, kebutuhan tenaga kerja bisa jauh berkurang ketika perusahaan mulai beroperasi, terutama jika kegiatan produksinya mengandalkan mesin dan teknologi otomatis.

“Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive,” ungkapnya.

Karena itu, Agus menilai kebijakan investasi perlu mempertimbangkan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, selain nilai modal yang ditanamkan. Investasi diharapkan mampu mendorong produktivitas sekaligus memberikan penghasilan kepada masyarakat melalui kesempatan kerja yang tersedia.

Ia mengingatkan bahwa keterbatasan pekerjaan dapat berdampak pada daya beli masyarakat. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan, kemampuan untuk membeli barang dan jasa ikut menurun. Padahal, permintaan domestik merupakan salah satu faktor penting bagi keberlangsungan industri.

“Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?” paparnya.

Menurut Agus, penciptaan lapangan kerja seharusnya menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi. Dengan pendapatan yang lebih merata melalui pekerjaan produktif, masyarakat memiliki kemampuan belanja yang dapat ikut menopang permintaan terhadap produk industri.

Sebagai salah satu upaya memperluas kesempatan kerja, Agus mendorong pengembangan ekonomi daerah melalui aktivitas usaha lokal, termasuk usaha kecil di perdesaan. Potensi ekonomi di tingkat lokal dinilai dapat menjadi sumber penghasilan masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kegiatan usaha di dalam negeri. Dengan mendorong produksi serta konsumsi domestik, penciptaan lapangan kerja diharapkan tidak hanya bergantung pada investasi asing dan pembangunan industri berskala besar.

Penguatan ekonomi daerah juga dapat memperluas sumber penghasilan masyarakat. Ketika usaha lokal berkembang, peluang kerja dan aktivitas ekonomi baru dapat tercipta, sehingga perputaran uang di daerah turut meningkat.

Pendekatan tersebut bukan berarti mengesampingkan investasi asing. Namun, Agus menilai pembangunan ekonomi perlu memastikan bahwa manfaat investasi dapat dirasakan masyarakat, termasuk melalui kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli.

Selain persoalan ketersediaan pekerjaan, Agus menyoroti kesiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia mengingatkan penggunaan AI secara berlebihan dalam proses pembelajaran berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam berpikir dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.

“Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,” tuturnya.

Menurut Agus, kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, dan menyampaikan pendapat tetap menjadi kompetensi penting bagi lulusan yang memasuki dunia profesional. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi mahasiswa perlu tetap mengembangkan pemahaman dan kemampuan analisis secara mandiri.

Ia juga menekankan pentingnya budaya membaca, diskusi, dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam perkuliahan. Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan terbiasa mengartikulasikan gagasan, mempertanggungjawabkan argumen, serta berkomunikasi secara efektif.

Meski demikian, peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu berjalan seiring dengan perluasan lapangan kerja. Pendidikan dan peningkatan keterampilan memang membantu lulusan mempersiapkan diri, tetapi upaya tersebut belum cukup apabila pertumbuhan kesempatan kerja masih tertinggal dari jumlah pencari kerja.

Agus menilai penyelesaian persoalan ketenagakerjaan membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pengembangan industri padat karya, kebijakan investasi yang memperhatikan penyerapan tenaga kerja, penguatan ekonomi daerah, hingga pendidikan yang membangun kompetensi lulusan.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

MAP Active Indonesia Hadirkan Foot Locker Day 2026 untuk Pecinta Sneakers

MAP Active Indonesia akan menghadirkan Foot Locker Day 2026 pada 16–18 Oktober 2026 di kawasan M Bloc, Jakarta. Acara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img