Moneter.co.id – Menteri Perindustrian Airlangga
Hartarto menyatakan pengembangan peternakan sapi perah dapat
mengurangi ketergantungan bahan baku susu impor sehingga menghemat
devisa. Upaya ini dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi nasional dengan
menggerakkan sektor-sektor strategis domestik sesuai amanat Nawacita.
“Kami menargetkan
suplai bahan baku susu segar meningkat jadi 41%
tahun 2022,
dengan kualitas semakin baik,” ujar Airlangga saat
Peresmian Peternakan Sapi Perah PT
Greenfields Indonesia di Blitar, Jawa Timur, Selasa (6/3).
Menurutnya, dari
segi off-farm, terdapat lebih dari 60
industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia. Namun saat ini ada 14 perusahaan yang telah bermitra dengan
peternak sapi
dalam negeri.
Baca juga: Greenfields Indonesia Bangun Peternakan Sapi Perah Bernilai Rp612 Miliar di Blitar
Airlangga
menjelaskan, pasokan bahan baku susu segar dari para peternak sapi perah lokal
hanya mampu mencukupi 852 ribu ton per tahun atau sekitar 23%, sedangkan
kebutuhan bahan baku susu segar untuk industri pengolahan susu dalam negeri
sebesar 3,7 juta ton pada tahun 2016.
“Karena bahan
bakunya belum bisa dipasok dari domestik, sisanya masih diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara
seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa,” jelasnya.
Jadi, kata
Menperin, masih banyak ruang bagi mereka yang ingin berinvestasi untuk
memperdalam struktur industri pengolahan susu di Indonesia.
Dalam mengatasi kondisi tersebut, Menperin
mengatakan, pihaknya terus mendorong industri pengolahan susu di dalam negeri
untuk semakin meningkatkan komitmen
investasinya. Kemenperin telah mengusulkan pemberian insentif fiskal bagi
sektor-sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja sehingga akan
berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional.
Sementara, CEO
AustAsia Dairy Group Edgar Collins mengatakan, dengan beroperasinya peternakan
yang kedua ini, akan terjadi peningkatan produksi susu segar dalam negeri
secara signifikan serta memperkokoh posisi Greenfields sebagai produsen susu
segar nomor satu di Indonesia.
“Kami juga ingin
memperkenalkan praktik peternakan sapi perah moderen sebagai model untuk
meningkatkan produktivitas dan kualitas dari susu segar dalam negeri,”
jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya sedang membangun Greenfields
Dairy Institute Foundation yang akan melatih lebih dari 800 peternak sapi
perah setiap tahunnya untuk meningkatkan keterampilan mereka agar mampu
meningkatkan produktivitas. “Hal ini tentunya akan meningkatkan pendapatan
mereka,” tungkas Edgar Collins.
Sejak tahun 2000 Greenfields
telah menjadi ekportir besar produk susu segar dari Indonesia. Saat ini sekitar
20 persen produksinya diekspor ke negara-negara seperti Hong Kong, Singapura,
Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja.
(TOP)




