Sabtu, Oktober 24, 2026

Likuiditas Ekonomi Menguat, Uang Beredar M2 Naik 8,3% Jadi Rp10.587,9 Triliun

Must Read

Likuiditas perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan pada September 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 tumbuh 8,3% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp10.587,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2026 yang sebesar 8,2% yoy.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan perkembangan tersebut melalui siaran pers pada Jumat (23/10/2026). Peningkatan pertumbuhan M2 terutama didukung oleh uang beredar dalam arti sempit atau M1 serta uang kuasi.

“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,0% (yoy) dan uang kuasi sebesar 7,3% (yoy),” demikian keterangan Bank Indonesia.

Secara terperinci, M1 tumbuh 9,0% yoy, sedangkan uang kuasi meningkat 7,3% yoy pada September 2026. Kedua komponen tersebut menjadi bagian dari pembentuk likuiditas perekonomian yang tercermin dalam posisi M2.

Dari sisi faktor yang memengaruhi, perubahan pertumbuhan uang beredar juga ditopang oleh pergerakan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, aktiva luar negeri bersih, dan penyaluran kredit. Ketiga komponen tersebut menunjukkan perkembangan yang berbeda sepanjang September 2026.

Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 24,4% yoy. Kondisi ini berbalik dibandingkan Agustus 2026, ketika komponen tersebut mengalami kontraksi 7,0% yoy.

Perubahan arah pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat menjadi salah satu perkembangan penting dalam dinamika likuiditas pada periode laporan. Meski demikian, data tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan besarnya kontribusi masing-masing faktor terhadap kenaikan M2.

Perbaikan juga terlihat pada aktiva luar negeri bersih. BI mencatat komponen ini tumbuh 1,0% yoy pada September 2026, setelah mengalami kontraksi sebesar 6,6% yoy pada Agustus 2026.

Sementara itu, penyaluran kredit masih menunjukkan pertumbuhan dua digit, meskipun melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kredit tumbuh 12,7% yoy pada September 2026, lebih rendah dari pertumbuhan Agustus 2026 sebesar 13,3% yoy.

Perlambatan pertumbuhan kredit tersebut berlangsung ketika pertumbuhan M2 justru meningkat. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa perkembangan uang beredar tidak hanya dipengaruhi oleh penyaluran kredit, tetapi juga oleh faktor lain, termasuk tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan aktiva luar negeri bersih.

Dengan pertumbuhan 8,3% yoy, posisi M2 pada September 2026 mencapai Rp10.587,9 triliun. Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan likuiditas nasional di tengah perubahan kontribusi sejumlah komponen moneter.

Bank Indonesia mencatat data tersebut sebagai bagian dari perkembangan indikator moneter bulanan. Pergerakan M2, M1, uang kuasi, dan faktor-faktor yang memengaruhinya dapat menjadi bahan pemantauan untuk melihat dinamika likuiditas serta perkembangan aktivitas keuangan dalam perekonomian Indonesia.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Menkeu Lantik Lima Pejabat Eselon I, Perkuat Sinergi Pengelolaan Keuangan Negara

Keuangan Suahasil Nazara melantik lima Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Jumat (23/10/2026). Pelantikan ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img