Moneter.id – PT Mark
Dynamics Indonesia Tbk (MARK) membukukan laba bersih sebesar Rp58,73 miliar di
kuartal III/2018. Laba ini meningkat 82,88% dibandingkan capaian perseroan pada
periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp32,17 miliar.
“Pencapaian ini
sekaligus melampaui realisasi laba bersih perseroan sepanjang 2017 yang
tercatat sebesar Rp49,25 miliar,” kata Presiden Direktur Mark Dynamics
Indonesia, Ridwan di Jakarta, Minggu (28/10).
Ridwan mengatakan,
kenaikan laba bersih perseroan didorong oleh peningkatan penjualan sampai
kuartal III/2018 sebesar 35,24% ke level Rp240,45 miliar, atau dari periode
sama tahun lalu yang sebesar Rp177,79 miliar.
”Tercapainya
penjualan pada periode ini bahkan lebih baik dari penjualan sepanjang 2017 yang
sebesar Rp239,79 miliar. Capaian ini juga melampaui target yang ditetapkan
manajemen,” ujarnya.
Menurut Ridwan, kinerja
penjualan perseroan masih mengandalkan ekspor yang berkontribusi hingga
Rp228,66 miliar atau 95,1% dari total nilai penjualan. Capaian ekspor tersebut
juga meningkat 36,27% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Dari sisi
penjualan hand former, perseroan mencatat penjualan sebesar 4,78 juta unit atau
meningkat 28,5% dibandingkan yoy yang sebesar 3,72 juta unit.
Ridwan menggarisbawahi
capaian pada kuartal III/2018 juga menunjukkan upaya efisiensi perseroan
berhasil. Pada kuartal III/2018, laba kotor emiten dengan sandi MARK tersebut
mencapai Rp104,85 miliar, dengan margin laba kotor sebesar 43,61%.
Pencapaian
tersebut meningkat signifikan jika dibandingkan dengan laba kotor perseroan
pada periode sama tahun lalu yang sebesar Rp63,88 miliar dan margin laba kotor
sebesar Rp35,93%.
Selain itu, emiten
produsen cetakan sarung tangan ini mencatat hingga kuartal III/2018 membukukan
laba sebelum pajak sebesar Rp80,83 miliar dengan marjin laba sebesar 33,62%,
meningkat dari tahun lalu yang sebesar Rp44,65 miliar dan margin laba 25,12%.
“Perseroan
menjaga tingkat biaya yang rendah meskipun terjadi fluktuasi nilai tukar rupiah
sepanjang triwulan ketiga 2018, di mana pos pendapatan beban dan lain-lain,
kami mencatat laba selisih kurs sebesar Rp1,42 miliar setelah yoy sempat rugi
Rp652,96 juta,” jelas Ridwan.
Ridwan menyebut produk
cetakan sarung tangan akan terus meningkat seiring kenaikan produksi sarung
tangan oleh pelanggan utama perseroan di Malaysia. Negeri Jiran merupakan
pemasok sekitar 61% sarung tangan karet dunia. Pada tahun ini, Malaysia
memprediksi dapat memasok hingga 63% dari kebutuhan pasar global.
“Malaysia
menjadi pasar teerbesar perseroan dibandingkan manufaktur sarung tangan
domestik yang hanya menguasai 3% pangsa pasar. Pada level global, pertumbuhan
industri sarung tangan mencapai 15% dengan Amerika Serikat merupakan importir
terbesar,” tutup Ridwan.
(TOP)




