Kamis, Januari 15, 2026

Mbak Tutut: Indonesia yang Kita Mau Adalah Bangsa yang Bersatu dan Tidak Saling Cakar

Must Read

Moneter.id – Putri
sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut) mengatakan,
perbedaan justru memperkaya Indonesia kita kalau kita bisa menyadarinya dengan
sebaik-baiknya.

“Kita
ingin mengembalikan Indonesia yang makmur, menjadi bangsa yang rukun, gotong
royong, dan saling bantu berjuang meski ada perbedaan,” kata Mbak Tutut saat
mengukuhkan Gerakan Bakti Cendana di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia
Indah (TMII), Rabu (20/3). 

“Indonesia
yang kita inginkan adalah bangsa yang bersatu dan tidak saling cakar,” ujar
Mbak Tutut.

Berbicara
selama setengah jam, yang diselingi dialog dengan organisasi Gerakan Bakti
Cendana, Mbak Tutut – sesuai ajaran agama Islam – perbedaan adalah rahmat.
Jadi, katanya, tidak perlu saling menjelek-jelekan, dan melakukan apa yang bisa
kita lakukan untuk rakyat Indonesia. “Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah.
Mulailah dari yang kecil,” ujar Mbak Tutut.

Seisi
aula Hotel Desa Wisata terdiam, menyimak setiap kalimat yang disampaikan Mbak
Tutut dengan suara lembut. Terlebih saat Mbak Tutut mengatakan memulai dari
yang kecil untuk membangun bangsa adalah anjuran Ibu Tien Soeharto, ibudan
tercinta.

“Ibu
Tien mengatakan perbuatan kecil tapi menjadi bagian pembangunan bangsa itu
lebih utama, daripada membangun sesuatu yang besar tapi menimbulkan masalah,”
kata Mbak Tutut.

Kepada
kader Partai Berkarya, partai yang dinahkodai Tommy Soeharto, Mbak Tutut juga
berpesan untuk tidak menyusahkan bangsa. Setiap kader Partai Berkarya harus
menunjukan program yang dimiliki untuk membantu negeri.

Mbak
Tutut tidak hanya mengingat pesan Ibu Tien, tapi masih belum lupa nasehat
almarhum presiden Soeharto – sang ayah tercinta. Salah satunya, berikan apa pun
untuk bangsa, meski mungkin hanya sebungkus nasi atau uang Rp 10 ribu. “Jika
tidak ada sama sekali untuk diberikan, berilah senyum,” kata Mbak Tutut.

“Makanya,
bapak (presiden Soeharto – red) selalu tersenyum, dan dikenang dengan julukan
smiling general,” ucap Mbak Tutut.

Nasehat
lain Pak Harto kepada anak-anaknya, kata Mbak Tutut, adalah tidak boleh dendam.
Sebab, dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru.

Mbak
Tutut juga bercerita jelang Pak Harto mengambil keputusan berhenti sebagai
presiden Republik Indonesia. Cerita dimulai ketika Pak Harto memanggil seluruh
anaknya, dan menyampaikan keinginan mengundurkan diri.

“Bagaimana
menurut kalian? Masyarakat sudah ramai meminta bapak berhenti,” Mbak Tutut
menirukan kata-kata sang ayah. “Saya jawab, apa pun keputusan bapak kami tetap
mendukung bapak berhenti karena sudah tidak dikehendaki rakyat,” lanjut Mbak
Tutut.

Yang
juga tidak bisa dilupakan Mbak Tutut adalah ketika Pak Harto memintanya
mencarikan buku UUD 45. Saat itu, masih menurut Mbak Tutut,  Pak Harto mengatakan; “Bapak mau berhenti
jadi presiden tapi saya mau memakai kata yang sesuai UUD 45. Bapak tidak mau
mengatakan mengundurkan diri, tapi berhenti dari presiden.”

“Saya
katakan kepada bapak, kan berhenti dan mengundurkan diri sama,” cerita Mbak
Tutut. “Bapak mengatakan; tidak. Mengundurkan diri artinya sebagai mandataris
rakyat, bapak mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas. Berhenti artinya
bapak, sebagai mandataris rakyat, disuruh berhenti karena tidak dipercaya lagi.
Bukan karena kemauan bapak, tapi kaena kehendak masyarakat.”

Jadi,
demikian Mbak Tutut, apa yang Pak Harto lakukan selalu berdasarkan UUD 45. Pak
Harto tidak pernah melanggar undang-undang.

“Malam
hari, bapak memanggil kami berenam dan menyampaikan keputusan berhenti, Adik
saya mengatakan jangan dulu berhenti, beri kami kesempatan membuktikan bahwa
sebagian besar rakyat Indonesia mencintai bapak,” kata Mbak Tutut, dengan suara
tersendat menahan tangis.

Respon
Pak Harto saat itu, lanjut Mbak Tutut, adalah; “Sabar. Kalian tidak boleh
dendam. Dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah lebih besar.”
Tidak hanya sekali Pak Harto mengingatkan anak-anaknya untuk tidak dendam, tapi
setiap hari.

Tidak
jarang pula Pak Harto menambah nasehatnya dengan; “Gusti Allah ora sare (tidak
tidur). Suatu saat rakyat akan tahu mana yang salah dan benar.” Menurut Mbak
Tutut, dari hari ke hari nasehat itu menyadarkan dia dan adik-adiknya bahwa
keputusan Pak Haro mengundurkan diri adalah yang terbaik untuk bapak dan
keluarga.

“Setelah
belajar Alquran, saya akhirnya tahu semua nasehat bapak adalah ajaran Allah
SWT. Pak Harto selalu bersandar kepada Allah SWT,” Mbak Tutut mengakhiri.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

REDMI Note Series Tembus 460 Juta Unit Pengiriman Global

REDMI Note Series menjadi kontributor besar dengan total pengiriman lebih dari 460 juta unit di lebih dari 100 negara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img