Moneter.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan defisit
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp353 triliun atau 2,2% sepanjang
2019 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sri Mulyani menuturkan defisit tersebut merupakan 119,3%
terhadap pagu APBN yaitu Rp296 triliun atau 1,84% terhadap PDB serta meningkat
31% (yoy) dibandingkan 2018 yaitu
Rp269,4 triliun atau 1,82% terhadap PDB.
“Defisit kita untuk 2019 di level 2,2% terhadap PDB yaitu
Rp353 triliun karena pendapatan negara tertekan sedangkan belanja negara
terjaga,” katanya di Jakarta, Selasa (7/1/2020).
Sri Mulyani menjelaskan dari sisi penerimaan negara
sepanjang 2019 total realisasinya adalah Rp1.957,2 triliun atau 90,4% dari
target APBN yaitu Rp2.165,1 triliun.
Menkeu mengatakan angka itu merupakan realisasi hingga 31
Desember 2019 pada pukul 24.00 waktu setempat namun bersifat sementara sebab masih
dalam proses audit oleh pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Ini posisi penutupan sampai 31 Desember namun realisasi
sementara dan akan masih ada angka bergerak satu hingga dua bulan ke depan
karena masih dalam tim audit BPK,” ujarnya.
Sri Mulyani menyatakan penerimaan negara tersebut masih
mampu meningkat 0,7% (yoy)
dibandingkan realisasi 2018 yang sebesar Rp1.943,7 triliun meskipun gejolak
dunia sangat dirasakan pada tahun tersebut.
Ia merinci pendapatan negara itu berasal dari penerimaan
perpajakan yang sepanjang 2019 sebesar Rp1.545,3 triliun, penerimaan negara
bukan pajak Rp405 triliun, dan hibah Rp6,8 triliun.
Sedangkan dari sisi belanja negara sepanjang 2019 telah
terealisasi Rp2.310,2 triliun atau 93,9% terhadap target APBN Rp2.461,1 triliun
yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp1.498,9 triliun serta transfer
daerah dan dana desa Rp811,3 triliun.
Sri Mulyani menyebutkan melalui realisasi pendapatan dan
belanja itu membuat defisit keseimbangan primer melonjak yaitu Rp77,5 triliun
atau jauh lebih tinggi dari target APBN Rp20,1 triliun.
“Kalau dari sisi pembiayaan anggaran itu mencapai Rp399,5
triliun atau 134,9% dari pagu yakni Rp296 triliun,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengatakan defisit Indonesia masih lebih
baik dibandingkan beberapa negara lain seperti Vietnam mencapai 4,4% PDB, Cina
6,15 PDB, Afrika Selatan 6,2% PDB, India 7,5% PDB, Amerika Serikat 5,6% PDB,
dan Brasil 7,55 PDB.
“Jadi kalau kita lihat kombinasi pemerintah dalam menjaga
fiskal untuk mampu mendorong ekonomi dan defisit melebar tapi jauh lebih rendah
dari peer emerging countries lain,”
katanya.




