Minggu, Maret 1, 2026

Menteri Amran Bakal Rombak Regulasi Penghambat Laju Pertanian

Must Read

Moneter.co.id – Menteri
Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan akan merombak regulasi yang
berpotensi menghambat percepatan laju produksi pertanian untuk menuju Indonesia
sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.

“Regulasi yang baik diteruskan,
dan bongkar yang menghambat,” kata Menteri Amran saat menyampaikan kuliah
umum bertajuk “Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045” di
Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Menurut Amran, jika dibiarkan
regulasi yang tidak tepat justru akan memunculkan dampak yang cukup signifikan
bagi petani maupun negara.

Amran mencontohkan regulasi yang
harus dirombak, di antaranya terkait pengadaan pupuk melalui tender. Jika
regulasi itu tidak dihilangkan, menurut dia, akan menyebabkan kerugian besar
bagi petani.

“Pengadaan
pupuk lewat tender dan baru tiba setelah panen. Padahal, jika pupuk telat 1
minggu saja mengakibat kehilangan 1 ton beras dan jika ini terjadi di seluruh
wilayah Indonesia bisa menimbulkan kerugian hingga Rp40 triliun,” ujarnya.

Amran mengemukakan untuk mewujudkan
Indonesia sebagai lumbung pangan juga dilakukan dengan menerapkan sikap anti
korupsi dalam tubuh Kementrian Pertanian (Kementan). Kementan telah membentuk
satgas pangan yang di dalamnya juga terdapat KPK.

Upaya lainnya, lanjut dia, yakni
dengan mengubah lahan tidur berupa rawa pasang-surut dan tanah tadah hujan
menjadi lahan pertanian. Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan untuk
meningkatkan lahan pertanian dalam negeri.

“Kita juga membangun lumbung
pangan di daerah perbatasan sekitar 10 ribu hektare. Dengan berbagai upaya itu
dalam 5-10 tahun mimpi bisa menyuplai negara tetangga bisa terwujud,”
ucapnya.

Sementara, Dekan Fakultas Pertanian
UGM Jamhari mengatakan Fakultas Pertanian UGM siap mendukung program pemerintah
dalam mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045.

Komitmen UGM untuk mendukung sektor
pertanian bangsa, menurut dia, salah satunya diwujudkan dengan pendirian PT.
Pagilaran pada tahun 1964. Perusahaan penghasil teh ini dibangun dengan sistem
kemitraan ini melibatkan sekitar tujuh ribu petani.

“Kita juga mengembangkan
varietas unggul kedelai hitam Malika dan aplikasi digital Desa Apps untuk
memudahkan petani dalam bercocok tanam dan berdiskusi dengan pakar
pertanian,” ujarnya.

 

(HAP/Ant)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img