Sabtu, Februari 28, 2026

Menteri Teten: Bunga Pinjaman Fintech Masih Tinggi, Tolong Diturunkan!

Must Read

Moneter.id Jakarta – Menkop UKM
Teten Masduki meminta pelaku fintech (financial technology) untuk menurunkan
bunga pinjaman produktif guna lebih memudahkan pelaku UMKM mendapatkan akses
pembiayaan.

Teten
menilai bunga pinjaman produksi fintech masih tinggi. Oleh karenanya, ia
berharap dengan kemajuan teknologi, fintech bisa semakin mudah menilai
kesehatan bisnis UMKM yang berujung pada penurunan bunga pinjaman.

“Mudah-mudahan
fintech dengan teknologi digitalnya yang semakin baik, mereka lebih mengenal
lebih detail kesehatan usaha dari UMKM sehingga mungkin bunganya dikurangi,
diturunkan,” kata Menkop UKM Teten Masduki di Jakarta, Kamis (14/9/2023).

Industri
fintech yang terus berkembang, katanya, mampu memberikan pinjaman tanpa agunan
senilai Rp2 miliar. Bahkan bagi pelaku UMKM yang sudah terhubung dalam
ekosistem Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP) dapat
meminjam ke fintech hingga Rp10 miliar

“Dengan
teknologi AI misalnya bisa melihat lebih detail lagi behavior kesehatan usaha
bahkan prospek bisnis para UMKM ini sehingga bunganya bisa diturunkan. Saya
optimistis,” ucapnya.

Sekretaris
Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko
mengatakan bunga pinjaman produktif yang diberikan anggota AFPI relatif
bersaing dengan multi finance dan perbankan, bahkan lebih rendah dibandingkan
bunga pinjaman konsumtif.

“Range
secara umum itu usaha yang paling bagus sekali bisa di 18 persen per tahun,
terus yang berisiko sekitar di 36 persen,” ungkapnya.

Mengenai
permintaan Menteri Teten untuk menurunkan bunga pinjaman produktif untuk UMKM
berpatokan pada profil risiko UMKM. Semakin rendah profil risikonya, maka akan
semakin rendah besaran bunga yang akan diberikan.

“Kenapa
orang bisa dapat 18 persen karena dia proven kinerja segala macam bagus. Bisa
tidak yang 36 persen turun? Bisa kenapa tidak orang market bersaing kok. Misal
ada orang bagus di platform A dikasih 36 persen, platform B melirik dikasih 30
persen, market machanism. Kenapa orang berani 36 persen tapi ada berani di 18
persen karena di faktor risikonya,” katanya.

“Makanya setransparan mungkin, kalau jejak
digitalnya terekam jelas itu akan mempercepat kredibilitas UMKM untuk
menurunkan profil risikonya. Itu tujuannya ekosistem digital,” ucap Sunu.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Motorola Resmi Luncurkan razr 60 di Indonesia: Era Baru Ponsel Lipat Pintar Berbasis AI

Motorola kembali menggebrak pasar ponsel premium tanah air dengan mengumumkan kehadiran motorola razr 60 di Jakarta pada Rabu, 25...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img