Senin, Maret 2, 2026

NJOP Jakarta Naik, Pasar Properti Ibukota Kena Imbas

Must Read

Moneter.id – Pemerintah
Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengumumkan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak
(NJOP) untuk wilayah DKI Jakarta, dimana rata-rata kenaikan NJOP ini mencapai
19,54% dari nilai NJOP terakhir. Secara langsung, kebijakan baru ini berimbas
pada kenaikan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayar warga DKI
Jakarta paling lambat setiap 31 Agustus.

Country
Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan, sebagai pusat bisnis nasional,
Jakarta, tentu saja, merupakan kawasan dengan tren harga properti yang terus
meningkat, meski saat ini cenderung tipis. Penyesuaian NJOP ini dikhawatirkan
dapat menurunkan daya tarik properti, khususnya hunian.

“Pencari
properti akan makin bergeser ke Bodetabek, apalagi dengan pembangunan
infrastruktur penghubung yang masif saat ini,” kata Marine disiaran pers
yang diterima MONETER.id, Selasa
(17/7).

Berdasarkan
data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nilai NJOP di Ibukota saat ini berkisar
pada Rp4,7juta hingga Rp48 juta per meter persegi. Umumnya, rata-rata pemilik
lahan mematok harga lebih tinggi sekitar 30% dari NJOP.

Berdasarkan
data Rumah.com Property Index, kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat adalah
kawasan dengan peningkatan tertinggi. Jakarta Selatan mencatatkan peningkatan
sebesar 2,3% pada Q2 2018 (q-o-q). Pada Q1, kawasan ini mengalami penurunan
sebesar 0,04%.

Sementara,
Jakarta Timur mengalami penurunan sebesar 2,1% pada Q2 2018 (q-o-q), setelah
pada kuartal sebelumnya naik tipis 0,4% (q-o-q).

“Kebanyakan
pencari hunian tampaknya sudah menyerah mencari properti di Jakarta Selatan dan
Pusat, karena harga yang sudah sangat tinggi. Harapan lebih besar terdapat di
Jakarta Timur, di sekitar Cibubur, Cipayung, Ciracas, dan sekitarnya,” ujar
Marine.

Khusus
Jakarta Timur, lanjut Marine, kawasan ini bakal semakin diminati karena
harganya masih lebih terjangkau. Minat konsumen juga akan didorong oleh
pembangunan jalan tol dan Light Rail
Transit
(LRT), yang aka membuat warga di sana lebih mudah menjangkau pusat
Ibukota.

“Jika
melihat fitur Project Review Rumah.com, masih ada hunian jenis rumah dengan
harga Rp500 jutaan dan apartemen dengan harga Rp250 jutaan di Jakarta Timur. Di
dalam Project Review, konsumen juga bisa mendapatkan informasi jarak antara
properti tersebut dengan akses tol, fasilitas umum, dan lain-lain secara
detail,” tambah Marine.

Berdasarkan
hasil survei Property Affordability Sentiment Index Semester II 2018
yang dilakukan Rumah.com terhadap 1000 responden dari seluruh Indonesia,
sebanyak 51% responden meyakini bahwa kenaikan NJOP ini akan berpengaruh
terhadap harga properti di DKI Jakarta. Sementara itu, 18% meyakini kenaikan
NJOP tidak akan berpengaruh terhadap harga properti.

Dari sisi
pengembang, Direktur PT. Bakrie Pangripta Loka (Pengembang Kawasan Sentra Timur
Superblok), Andre R Makalam, mengakui bahwa kenaikan NJOP akan menyebabkan
kenaikan harga properti secara proporsional, didasarkan pada zonasi.

“Kenaikan
akan tergantung dari zona properti. Di Sentra Timur, kenaikan untuk unit baru
yang akan diluncurkan akan berada pada kisaran 5%. Yang akan merasakan dampak
paling besar adalah Jakarta Selatan, terutama untuk properti kelas atas,”
ujar Andre.

Andre
menjelaskan, di zona kawasan Jakarta Selatan mungkin turun. Konsumen yang
menjadi peminat properti di kawasan ini akan lebih memilih wait and see,
karena mereka juga harus mempertimbangkan kenaikan pajak dan sebagainya. Dampak
terhadap peminat dan harga properti mungkin akan terlihat penurunannya dalam
enam bulan ke depan.

“Kenaikan
NJOP sebesar 20% ini masih wajar. Saya yakin keputusan ini adalah masukan dari
banyak pihak. Dengan kenaikan NJOP ini harapannya Pemerintah DKI Jakarta bisa
menggunakannya untuk memperbaiki fasilitas, seperti jalan, sosial, dan
lain-lain. Hal ini akan meningkatkan iklim usaha di Jakarta. Nah,
masukan-masukan yang ini juga harus diserap oleh Pemprov DKI Jakarta,”
pungkas Andre.

 

 

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img