Selasa, Juni 9, 2026

Pasar Apartemen Jakarta Stabil, Pengembang Fokus Jual Stok Unit pada 2026

Must Read

Pasar apartemen Jakarta masih bergerak dalam tren yang relatif stabil pada kuartal I 2026. Di tengah kondisi pasar yang selektif, minat konsumen terhadap unit siap huni dan dukungan insentif pemerintah menjadi penopang utama penjualan.

Laporan terbaru Colliers menunjukkan hampir 300 unit apartemen berhasil terjual pada tiga bulan pertama tahun ini. Menariknya, sekitar separuh dari transaksi tersebut berasal dari apartemen yang telah siap ditempati. Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% yang berlaku sepanjang 2026 dinilai memberikan kepastian finansial bagi calon pembeli dan mendorong keputusan pembelian.

Sementara itu, dari sisi pasokan, sekitar 2.000 unit apartemen dijadwalkan selesai pada tahun ini. Namun hingga kuartal I 2026, realisasi penyelesaian proyek baru mencapai sekitar 10%, sehingga membuka peluang terjadinya pergeseran jadwal sejumlah proyek.

Jakarta Selatan masih menjadi kawasan yang paling aktif dalam pengembangan apartemen. Wilayah tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 60% dari total pasokan yang direncanakan sepanjang tahun ini.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menilai pasokan yang akan hadir sepanjang 2026 memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pasar beberapa tahun mendatang.

“Untuk sisa tahun 2026, apabila seluruh proyek selesai tepat waktu, maka akan merepresentasikan sekitar 70% dari total pasok selama periode tahun 2026–2029. Artinya, berdasarkan konstruksi saat ini, proyeksi pasok mendatang setelah tahun 2026 akan sangat terbatas,” kata Ferry.

Di tengah persaingan pasar, pengembang tidak banyak melakukan penyesuaian harga. Strategi yang ditempuh lebih banyak berupa pemberian insentif tambahan, seperti unit yang telah dilengkapi furnitur serta penawaran fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) yang lebih menarik untuk meningkatkan daya tarik produk.

Secara umum, harga apartemen di Jakarta masih cenderung stabil dengan kenaikan tipis di sejumlah kawasan. Namun, tekanan terhadap harga berpotensi meningkat seiring kenaikan biaya konstruksi akibat dinamika geopolitik global yang memengaruhi pengadaan material dan pengembangan proyek baru.

Di sisi lain, pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Alih-alih meluncurkan proyek baru secara agresif, sebagian besar pengembang memilih memfokuskan strategi pada penjualan stok unit yang tersedia. Sikap tersebut menandai perubahan pendekatan dibandingkan periode sebelum pandemi, ketika peluncuran proyek baru berlangsung lebih ekspansif.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

PT SMI Gandeng Grup Indika Energy, Siapkan Rp950 Miliar untuk Perluas PLTS Sektor Industri

PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI memperkuat pembiayaan hijau melalui kerja sama dengan Grup Indika Energy dengan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img